Harga BBM Turun di SPBU Swasta, di SPBU Pertamina Belum

CNN Indonesia | Senin, 17/12/2018 15:02 WIB
Harga BBM Turun di SPBU Swasta, di SPBU Pertamina Belum Harga BBM nonsubsidi turun di sejumlah SPBU swasta. Kementerian ESDM membenarkan bahwa hanya Pertamina yang belum menurunkan harga. (CNN Indonesia/Andry Novelino).
Jakarta, CNN Indonesia -- Harga Bahan Bakar Minyak (BBM) nonsubsidi turun di Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) milik sejumlah distributor swasta, seperti Shell, AKR Corporindo, Garuda Mas, dan Vivo. Namun, harga BBM yang dijual SPBU PT Pertamina (Persero) stabil alias tak ada penurunan harga.

Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) membenarkan, saat ini memang hanya Pertamina yang belum menurunkan harga BBM nonsubsidi. "Perusahaan yang lain sudah (menurunkan harga BBM) semua," ujar Direktur Jenderal Minyak dan Gas (Migas) Djoko Siswanto di Kantor Kementerian ESDM, Senin (17/12).

Diketahui, AKR Corporindo menurunkan harga Rp100 per liter untuk jenis Akra 92, Garuda Mas turun tipis Rp25 per liter, dan Vivo memangkas nyaris Rp1.000 per liter. Exxonmobil dan Total juga menurunkan harga BBM nonsubsidi mereka di kisaran Rp200 - Rp250 per liter.


Yang terakhir, Shell menurunkan harga BBM jenis reguler mereka dari Rp10.550 per liter menjadi Rp10 ribu per 13 Desember 2018. Sementara, harga produk lainnya tak berubah, seperti Super, V-Power, dan Diesel.

"Penurunan (harga BBM Shell) mungkin bertahap," terang Djoko.

Dalam wawancana sebelumnya, Djoko menyebutkan bahwa Pertamina menjanjikan bakal memangkas harga BBM nonsubsidinya pada Januari 2019. Jika tidak, Kementerian ESDM bakal memanggil perseroan.


"Janjinya Pertamina Januari (turun harga). Kalau tidak ditepati kami panggil lagi," katanya.

Secara terpisah, Sekretaris Perusahaan Pertamina Syahrial Mukhtar mengungkapkan perseroan masih melakukan evaluasi harga. Diperkirakan, prosesnya memakan waktu dua pekan hingga sebulan, mengingat banyaknya jenis produk yang dijual perusahaan.

"Kami masih kaji dulu perkembangan fluktuasi harga yang di hulu," imbuh dia.


Syahrial mengungkapkan penurunan harga di hulu tidak secara otomatis bakal menekan harga di hilir. Pasalnya, terdapat jeda harga yang berlaku. Selain itu, perseroan juga membutuhkan waktu untuk melihat fluktuasi dan proyeksi perkembangan harga ke depan.

"Kan (harga minyak mentah) kami basisnya MOPS. Bukan acuan WTI atau Brent. Kan ada selang waktunya," jelasnya.

Lagipula, ia melanjutkan produk BBM yang dijual oleh Pertamina saat ini berasal dari stok minyak mentah yang menggunakan harga bulan sebelumnya. Nantinya, kalau tren harga minyak mentah terus menurun, maka perseroan akan melakukan penyesuaian.


"Bagaimana menyikapi fluktuasi (harga) ini kan perlu kajian kajian. Bulan depan bergerak atau tidak," tandasnya.


(sfr/bir)