ANALISIS

Berbenah Neraca Dagang Tak Seperti Membalikkan Telapak Tangan

Yuli Yanna Fauzie, CNN Indonesia | Selasa, 18/12/2018 13:04 WIB
Berbenah Neraca Dagang Tak Seperti Membalikkan Telapak Tangan Ilustrasi peti kemas. (CNN Indonesia/ Hesti Rika).
Jakarta, CNN Indonesia -- Sektor perdagangan yang semula menggeliat kini perlahan meredup. Neraca ekspor-impor yang diharapkan kembali surplus justru berputar 180 derajat menghasilkan jurang defisit yang teramat dalam. Bahkan, paling parah dalam kurun lima tahun terakhir.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), Indonesia mengalami defisit neraca perdagangan untuk pertama kali dalam sejarah pada 2012 silam. Kala itu, defisit tercatat sekitar US$1,63 miliar karena berakhirnya era kejayaan harga komoditas (comodity boom) di pasar dunia.

Defisit kembali berlanjut dua tahun kemudian, yaitu sebesar US$4,06 miliar pada 2013 dan US$2,19 miliar pada 2014.



Meski demikian, kondisi ekonomi dan harga komoditas global yang mulai membaik berhasil membalikkan kinerja perdagangan Indonesia pada 2015. Tren kinerja perdagangan yang defisit seketika berbalik arah menjadi surplus sebesar US$7,67 miliar.

Bahkan, angka surplus kian melejit pada tahun-tahun selanjutnya, yakni surplus US$8,78 miliar pada 2016 dan US$11,84 miliar pada 2017. Sayang, belum sempat angka surplus kembali ke kisaran US$20 miliar seperti saat era kejayaan harga komoditas, kinerja neraca perdagangan Indonesia tiba-tiba terjungkal.

Sepanjang Januari-November tahun ini, neraca perdagangan sudah defisit US$7,52 miliar. Hal ini terjadi karena nilai ekspor hanya US$165,8 miliar, sementara impor melejit hingga US$173,82 miliar.

Ekonom Universitas Indonesia (UI) Telisa Aulia Falianty mengatakan kinerja perdagangan yang buruk tahun ini dipengaruhi oleh banyak faktor. Pertama, menurunnya harga komoditas ekspor mentah Tanah Air. Padahal, Indonesia masih mengandalkan ekspor dari komoditas itu, misalnya minyak sawit mentah (Crude Palm Oil/CPO) dan batu bara. Harga CPO yang akhir tahun lalu berada di kisaran US$700 per ton, perlahan tapi pasti merosot hingga US$500 per ton pada November lalu.


Kedua, pembangunan infrastruktur yang kian masih di era pemerintahan Kabinet Kerja. Terlebih, beberapa proyek infrastruktur tengah 'kejar setoran' agar bisa rampung pada tahun akhir pemerintahan.

"Pembangunan infrastruktur memiliki konten bahan impor yang tinggi," ujarnya kepada CNNIndonesia.com, Senin (17/12).

Ketiga, aliran investasi asing yang cukup deras di sektor industri yang membuat aktivitas impor makin besar. Berdasarkan data Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), realisasi investasi pada Januari-September 2018 mencapai Rp535,4 triliun atau naik sekitar 4,3 persen dari Januari-September 2017. "Investasi asing yang tinggi tentu juga membawa impor yang tinggi," katanya.

Keempat, perlambatan ekspor karena sentimen perang dagang dan kebijakan proteksionisme AS. "Di saat yang bersamaan, semakin ketat pula persiangan dengan negara-negara pengekspor," terangnya.


Ekonom Bank Permata Josua Pardede menambahkan kinerja neraca perdagangan juga dipengaruhi oleh tingginya harga minyak mentah dunia. Minyak mentah Brent misalnya, sempat menyentuh angka US$85 per barel pada tahun ini. Hal ini membuat nilai impor minyak dan gas (migas) Indonesia meningkat tinggi karena kebutuhan akan minyak juga tinggi.

"Ditambah lagi dengan depresiasi nilai tukar rupiah yang membuat dari sisi nilai, impor tentu meningkat juga," ucapnya.

Masalah struktural industri yang belum seluruhnya berorientasi ekspor juga memberi sumbangan terhadap defisit neraca perdagangan. Di sisi lain, ada pula industri-industri yang tidak bisa memenuhi kebutuhan bahan bakunya, sehingga akhirnya harus impor.

"Industri di dalam negeri juga belum cukup kuat untuk menyuplai bahan baku yang dibutuhkan sesama industri domestik, proses subtitusi belum sepenuhnya berjalan," terangnya.

Walhasil, Indonesia harus menerima torehan defisit yang dialami sepanjang tahun ini. Josua memprediksi defisit perdagangan secara kumulasi bisa menyentuh kisaran US$8 miliar pada penghujung tahun ini.

Berbenah Neraca Dagang Tak Seperti Membalikkan Telapak TanganKinerja neraca perdagangan Indonesia. (CNNIndonesia/Asfahan Yahsyi).

Meski begitu, ia menilai sebenarnya tetap ada sisi positif dari kinerja perdagangan yang 'melempem'. Sebab, meski impor terbilang tinggi, namun ini turut memberi sinyal bahwa roda ekonomi tetap bergerak karena bahan impor digunakan untuk industri dan infrastruktur.

Lebih lanjut, hal ini sejatinya tetap memberi sumbangan ke perekonomian, meski kisarannya diperkirakan hanya 5,1 persen sampai akhir tahun ini.

Di sisi lain, pemerintah sebenarnya juga sudah mulai berusaha memoles kinerja perdagangan. Misalnya, dengan pembatasan impor melalui kenaikan tarif Pajak Penghasilan (PPh) Pasal 22, mandatori perluasan biodiesel 20 persen (B20), sampai peningkatan ekspor dengan berbagai insentif pajak.

Namun, hal ini memang tak bisa memberi hasil kilat, sehingga defisit neraca perdagangan yang terjadi sepanjang tahun ini diperkirakan bakal berlanjut pada tahun depan. Apalagi kondisi ekonomi pada tahun depan masih penuh ketidakpastian.


Hal ini karena beberapa proyeksi lembaga ekonomi di dunia sudah memperkirakan akan terjadi perlambatan ekonomi sebagai dampak dari era suku bunga acuan mahal yang dimulai dari Amerika Serikat (AS) hingga tensi perang dagang AS-China.

Dari dalam negeri, kenaikan bunga acuan Bank Indonesia (BI) yang sejalan dengan bank sentral AS Federal Reserve diperkirakan akan membuat industri merasakan tekanan. Sebab, kebutuhan modal jadi lebih mahal.

"Masalah struktural ini memang harus dibenahi perlahan, hasilnya tidak cepat, tapi perlu dilakukan. Harapannya, kebijakan fiskal dan moneter ke depan bisa lebih bersinergi lagi untuk bangun industri," tuturnya.

Kendati demikian, defisit neraca perdagangan tahun depan berpotensi mereda. Pasalnya, harga beberapa komoditas sudah mulai turun, sehingga tekanan sedikit berkurang. Ia memperkirakan dampak dari masih defisitnya neraca perdagangan tahun depan akan membuat pertumbuhan industri hanya di kisaran 4,9 persen dan pertumbuhan ekonomi sekitar 5,1 persen atau sama dengan tahun ini. (lav)