Menteri Jonan Desak Hilirisasi Industri Batu Bara

CNN Indonesia | Rabu, 19/12/2018 05:46 WIB
Menteri Jonan Desak Hilirisasi Industri Batu Bara Menteri ESDM Ignasius Jonan mendorong industri batu bara untuk meningkatkan kegiatan hilirisasi agar tercipta nilai tambah sehingga mampu mendongkrak ekonomi. (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono).
Jakarta, CNN Indonesia -- Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Ignasius Jonan mendorong industri batu bara untuk meningkatkan kegiatan hilirisasi agar tercipta nilai tambah, sehingga mampu mendongkrak pertumbuhan ekonomi.

"Pemerintah selalu menganjurkan (batu bara) ini harus ada nilai tambah," ujar Jonan dalam acara IEA Coal Forecast to 2023 di Hotel Ritz Carlton Mega Kuningan Jakarta, Selasa (18/12).

Selama ini, mayoritas perusahaan tambang di Indonesia masih sekadar menggali. Setelah itu, mineral dan barang tambang mentahnya diekspor ke luar negeri.


"Dulu saat memulai usaha cuma gali dan jual. Orang yang tidak bersekolah juga bisa," ujarnya.

Pengembangan teknologi untuk meningkatkan nilai tambah batu bara telah gencar dilakukan di beberapa negara. Misalnya, di China dan Amerika Serikat, teknologinya telah memungkinkan untuk mengubah batu bara menjadi bahan bakar pesawat.

Di Indonesia, lanjut Jonan, produk batu bara bisa dilakukan gasifikasi menjadi Dimethyl Eter (DME) sebagai pengganti Liquid Petroleum Gas (LPG). Selain meningkatkan nilai tambah, pengembangan DME juga bisa membantu menahan impor gas.

Di tempat yang sama, Wakil Ketua Umum Kadin Bidang Sumber Daya Mineral, Batu Bara, dan Listrik Boy Garibaldi Thohir mengungkapkan pelaku usaha mendukung upaya hilirisasi batu bara. Saat ini, batu bara bisa dikembangkan ke berbagai produk mulai dari listrik, gas, amonia, dan bahan bakar pesawat jet.

Sejauh ini, di Indonesia, nilai tambah batu bara sebagian besar masih ke listrik. Untuk menambah nilai tambah batu bara, lanjut Boy, harus memperhatikan lokasi tambang juga. Misalnya, jika ingin mengembangkan batu bara menjadi gas perlu dipikirkan masalah logistik dan distribusinya.

"Kalau tambang kan sebagian di daerah terpencil. Meski kita bisa mengkonversi (menjadi gas) tetapi kalau di daerah terpencil, biaya logistiknya mahal juga," ujarnya.

Boy meyakini industri batu bara ke depan akan semakin banyak yang melakukan hilirisasi seiring perkembangan teknologi. Semakin banyak yang melakukan upaya peningakatan nilai tambah batu bara, biayanya akan semakin kompetitif.

Di PT Adaro Energy Tbk, perusahaan yang dipimpin Boy, studi hilirisasi telah dilakukan sejak lama, salah satunya untuk mengembangkan produk DME. Namun, hingga kini perusahaan masih ingin fokus untuk mengembangkan hilirisasi batu bara ke listrik.

Hal itu dilakukan dengan membangun proyek Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) berkapasitas 2x100 MW di Kabupaten Tabalong, Kalimantan Selatan yang akan beroperasi pada 2019 dan PLTU Batang 2x1000 MW yang akan beroperasi pada 2020.

Lebih lanjut, Boy memperkirakan proyeksi bisnis batu bara masih positif tahun depan. Hal itu didukung oleh meningkatnya permintaan dari India, dan negara-negara ASEAN, termasuk Indonesia.

Ketua Umum Asosiasi Pertambangan Batu Bara (APBI) Pandu Patria Sjahrir menilai pelaku usaha akan melakukan hilirisasi jika kualitas pasar domestik meningkat. Saat ini, lanjut Pandu, pelaku usaha tambang batu bara cenderung menahan investasi, imbas dari ketidakpastian pasar domestik.

"Dengan kita bisa meningkatkan kualitas pasar domestik kita, orang akan berinvestasi. Investasi bukan untuk meningkatkan produksi tetapi untuk meningkatkan investasi ke hilirisasi," ujarnya.

Selain itu, lanjut Pandu, upaya hilirisasi juga masih terhambat oleh keterbatasan teknologi dan skala ekonomi.

"Bagaimana bisa membangun skala (produksi) yang besar agar investasinya masuk," ujarnya (sfr/lav)