Sementara kurs referensi Bank Indonesia (BI), Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) menempatkan rupiah di posisi Rp14.499 per dolar AS atau melemah dari kemarin di Rp14.380 per dolar AS.
Di kawasan Asia, rupiah melemah bersama won Korea Selatan minus 0,38 persen, peso Filipina minus 0,15 persen, renminbi China minus 0,09 persen, dolar Hong Kong minus 0,03 persen, dan ringgit Malaysia minus 0,02 persen.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Namun, beberapa mata uang Asia lain berhasil berlabuh di zona hijau. Rupee India menguat 0,61 persen, yen Jepang 0,58 persen, dolar Singapura 0,2 persen, dan baht Thailand 0,13 persen.
Sedangkan mayoritas mata uang utama negara maju justru menguat dari dolar AS. Hanya rubel Rusia yang melemah 0,16 persen dari dolar AS. Euro Eropa menguat 0,5 persen, poundsterling Inggris 0,45 persen, franc Swiss 0,35 persen, dolar Australia 0,19 persen, dan dolar Kanada 0,03 persen.
Menurutnya, kenaikan bunga acuan pada Desember ini memang telah diekspektasikan oleh pasar, namun pasar tidak memperkirakan bila kenaikan bunga acuan The Fed tahun depan hanya dua kali. "Ini membuat pasar melihat masih ada prospek yang bagus untuk dolar AS," ujar Dini kepada CNNIndonesia.com, Kamis (20/12).
Sementara pengaruh dari pengumuman hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI justru tidak begitu terasa ke pasar. Sebab, ekspektasinya memang bank sentral nasional menahan tingkat bunga acuannya di posisi 6 persen. (uli/bir)