Harga Tiket Garuda Naik 7,26 Persen dalam Sebulan

Tim, CNN Indonesia | Sabtu, 22/12/2018 20:25 WIB
Harga Tiket Garuda Naik 7,26 Persen dalam Sebulan Ilustrasi Garuda Indonesia. (CNN Indonesia/Hesti Rika Pratiwi)
Jakarta, CNN Indonesia -- Harga rata-rata tiket penerbangan PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk (GIAA) meningkat 7,26 persen dalam sebulan terakhir. Pada Oktober 2018 tarif rata-rata maskapai penerbangan plat merah itu tercatat sebesar US$107,4 atau Rp1,55 juta mengacu kurs Rp14.500, sedangkan pada November 2018 rata-rata harga tiket mencapai US$115,2 setara Rp1,67 juta.

Namun demikian, rata-rata harga tiket periode Januari-November cenderung turun dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Mengutip materi kinerja keuangan perseroan melalui keterbukaan informasi, rata-rata tarif pada Januari-November 2018 sebesar US$107,4 turun tipis 0,3 persen dari periode sebelumnya US$107,7.

Direktur Utama Garuda Indonesia, I Gusti Ngurah Askhara Danadiputra, menjelaskan penyesuaian harga tiket tidak pernah melebihi tarif batas atas dan tarif batas bawah yang ditetapkan pemerintah. Ia bilang, perseroan hanya memaksimalkan ruang tersebut.



"Banyak yang tanya kenapa Garuda Indonesia naik harga, itu karena harga fuel (bahan bakar) dan depresiasi rupiah," kata Ashkara, Jumat (21/12).

Ari mengungkapkan pihaknya tengah mengusulkan kenaikan tarif batas atas kepada Kementerian Perhubungan. Alasannya, untuk menjaga diferensiasi layanan antara maskapai kategori layanan standar maksimum (full services), standar menengah (medium sevices), dan standar minimum (no frills services).

"Kalau harga antara Low Cost Carrier (maskapai berbiaya hemat) dengan full services sedikit mereka cenderung memilih Garuda Indonesia. Jadi ini akan membunuh persaingan dengan LCC," terang Askara.

Pertimbangan lain, kata Ari, pemerintah hendaknya mengevaluasi tarif setiap tahun. Hal ini mengacu pada Peraturan Menteri Perhubungan (Permenhub) Nomor 14 Tahun 2016 tentang Mekanisme Formulasi Perhitungan dan Penetapan Tarif Batas Atas dan Tarif Batas Bawah.

Pada pasal 7 beleid itu menyebutkan Direktur Jenderal melakukan evaluasi terhadap besaran tariff yang telah ditetapkan setiap satu tahun apabila terjadi perubahan signifikan yang mempengaruhi kelangsungan kegiatan badan usaha angkutan udara.

Di sisi lain, harga minyak mentah dunia mengalami kenaikan sehingga menambah beban operasional perusahaan dari sisi bahan bakar. Namun demikian, Ari memastikan Garuda Indonesia akan mempertahankan tariff batas bawah.

"Jadi nanti ada subsidi silang," ujarnya.

Kinerja Positif Akhir Tahun

Ari menargetkan kinerja keuangan positif akhir tahun ini. Membaiknya kinerja keuangan akan didorong oleh tiga strategi yaitu restrukturisasi pesawat, efisiensi, dan pendapatan iklan (advertising).

Ia merincikan lewat strategi restrukturisasi pesawat perseroan mampu menghemat biaya hingga 40 persen. Caranya, memperpanjang masa sewa pesawat yang akan habis. Garuda Indonesia juga memaksimalkan pendapatan dari media iklan dengan menggandeng beberapa marketplace seperti Traveloka, Tiket.com, dan JD.ID.


Pada kuartal III 2018 lalu, perusahaan mampu menekan kerugian menjadi US$114,08 juta dari periode sebelumnya US$222,03 juta.

"Masih ada satu bulan, kami harap ada beberapa transaksi yang signifikan, sehingga semoga bisa positif," ujarnya.

Untuk tahun depan, Garuda Indonesia menargetkan bisa mengantongi laba bersih setelah pajak sebesar Rp1 triliun. Selain menerapkan tiga strategi di atas, perseroan juga akan memaksimalkan pendapatan dari anak usahanya, baik dari PT GMF AeroAsia Tbk (GMFI), PT Citilink Indonesia, serta anak usaha lainnya.

Pada November 2018 ini, perseroan meraih pendapatan dari layanan penerbangan sebesar US$232,4 juta, naik 13,4 persen dibandingkan November 2017 sebesar US$205 juta.

Akan tetapi, kenaikan pendapatan pada November ini belum bisa mendongkrak pendapatan secara tahun berjalan. Tercatat pendapatan Garuda Indonesia pada Januari-November 2018 sebesar US$2,33 miliar, turun 1 persen dari periode yang sama tahun lalu sebesar US$2,35 miliar.

(ulf/vws)