Dikutip dari Reuters, volume perdagangan pasar uang sebenarnya terbilang tipis seiring rehatnya bursa global menjelang Natal. Sementara itu, pasar valas Jepang sudah tutup hari ini dalam rangka hari ibur.
Setelah sentimen pertumbuhan ekonomi global menghantui pasar beberapa waktu terakhir, investor semakin enggan mengambil risiko baru di akhir tahun ini.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Lihat juga:Penutupan Pemerintahan AS Dimulai |
Kini, penutupan pemerintahan parsial bikin investor kian grogi. Akhirnya, investor beralih ke mata uang lain yang dianggap lebih aman.
Sementara itu, Swiss franc juga dianggap sebagai saudara yen, yakni instrumen mata uang yang aman (safe haven). Hanya saja, kurs Swiss franc sampai saat ini belum berubah melawan euro yang tengah di atas angin. Nilai tukar euro sendiri meningkat 0,1 persen, namun di sisi lain, dolar AS bertekuk lutut 0,2 persen di hadapan euro.
Adapun, sentimen positif berhembus dari keputusan China yang berencana untuk menghapus bea masuk dan bea keluar untuk beberapa komoditas pada 2019 mendatang. Ini setidaknya bisa menghilangkan ketegangan dagang antara China dan AS.
Lebih lanjut, kondisi dolar AS yang terbata-bata pada Senin diharapkan akan berakhir sesegera mungkin karena investor akan menyeimbangkan kembali portfolio investasinya dan itu bisa menopang performa dolar AS.
"Namun jika efek hari ini berlangsung terus, dan disertai dengan penjualan aset berisiko (risk off) yang terjadi hingga akhir tahun nanti, maka kita mungkin akan melihat dolar terjungkal dan bahkan akan mencatat rekor terbaru jika dihitung secara tahun kalender (year-to-date)," jelas Analis MUFG Fritz Louw dalam catatannya. (agi/glh/agi)