Penutupan pemerintahan AS Bikin Yen dan Euro Menguat

CNN Indonesia | Selasa, 25/12/2018 01:43 WIB
Penutupan pemerintahan AS Bikin Yen dan Euro Menguat Ilustrasi yen Jepang. (REUTERS/Lee Jae-Won)
Jakarta, CNN Indonesia -- Kecemasan investor terhadap penutupan pemerintahan (goverment shutdown) Amerika Serikat membuat permintaan terhadap euro dan yen meningkat. Hal ini tetap terjadi kendati ada angin segar dari China yang berencana untuk memangkas bea masuk impor dari AS.

Dikutip dari Reuters, volume perdagangan pasar uang sebenarnya terbilang tipis seiring rehatnya bursa global menjelang Natal. Sementara itu, pasar valas Jepang sudah tutup hari ini dalam rangka hari ibur.

Setelah sentimen pertumbuhan ekonomi global menghantui pasar beberapa waktu terakhir, investor semakin enggan mengambil risiko baru di akhir tahun ini.


Apalagi, bank sentral AS Federal Reserve pada rapat pemangku kebijakan moneter pekan lalu juga menciptakan ketakutan bagi investor. Kenaikan suku bunga acuan 25 basis poin pada pekan lalu dikhawatirkan akan terus berlanjut, sehingga menekan pertumbuhan ekonomi AS.


Kini, penutupan pemerintahan parsial bikin investor kian grogi. Akhirnya, investor beralih ke mata uang lain yang dianggap lebih aman.

Yen, misalnya, dianggap sebagai instrumen mata uang yang paling aman di masa-masa yang penuh ketidakpastian. Nilai tukar yen menguat 0,3 persen menuju 110,81 yen per dolar AS. Bahkan, nilai tukar yen sudah menguat lebih dari 2 persen terhadap dolar AS dalam enam hari terakhir.

Sementara itu, Swiss franc juga dianggap sebagai saudara yen, yakni instrumen mata uang yang aman (safe haven). Hanya saja, kurs Swiss franc sampai saat ini belum berubah melawan euro yang tengah di atas angin. Nilai tukar euro sendiri meningkat 0,1 persen, namun di sisi lain, dolar AS bertekuk lutut 0,2 persen di hadapan euro.


Adapun, sentimen positif berhembus dari keputusan China yang berencana untuk menghapus bea masuk dan bea keluar untuk beberapa komoditas pada 2019 mendatang. Ini setidaknya bisa menghilangkan ketegangan dagang antara China dan AS.

Lebih lanjut, kondisi dolar AS yang terbata-bata pada Senin diharapkan akan berakhir sesegera mungkin karena investor akan menyeimbangkan kembali portfolio investasinya dan itu bisa menopang performa dolar AS.

"Namun jika efek hari ini berlangsung terus, dan disertai dengan penjualan aset berisiko (risk off) yang terjadi hingga akhir tahun nanti, maka kita mungkin akan melihat dolar terjungkal dan bahkan akan mencatat rekor terbaru jika dihitung secara tahun kalender (year-to-date)," jelas Analis MUFG Fritz Louw dalam catatannya. (glh/agi)