ESDM Bantah Pernyataan Prabowo soal RI Krisis BBM di 2025

CNN Indonesia | Senin, 31/12/2018 15:16 WIB
ESDM Bantah Pernyataan Prabowo soal RI Krisis BBM di 2025 Kementerian ESDM membantah pernyataan Capres Prabowo Subianto yang menyebut pemenuhan BBM RI pada 2025 akan dipenuhi seluruhnya dari impor. (CNN Indonesia/Andry Novelino).
Jakarta, CNN Indonesia -- Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) membantah pernyataan Calon Presiden Prabowo Subianto yang menyebut pemenuhan Bahan Bakar Minyak (BBM) Indonesia pada 2025 nanti akan berasal sepenuhnya dari impor.

Memang, Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi Djoko Siswanto menyebut tren produksi minyak Indonesia menurun. Tahun ini, produksi minyak mentah diperkirakan berkisar 775 ribu hingga 800 ribu barel per hari (bph) atau turun dari realisasi tahun lalu, yakni 804 ribu bph.

Namun, dengan asumsi penurunan produksi sekitar 5 persen per tahun saja, butuh waktu 20 tahun untuk benar-benar habis.


"20 tahun itu pun kalau tidak ada temuan minyak. Kalau ada?," ujarnya di Kantor Kementerian ESDM, Senin (31/12).

Kepala Biro Fasilitasi Penanggulangan Krisis dan Pengawasan Energi Dewan Energi Nasional (DEN) Ediar Usman juga membantah Indonesia akan murni impor untuk memenuhi kebutuhan BBM pada 2025 mendatang.

Sebab, masih ada pengembangan sejumlah lapangan migas. Tahun depan saja, berdasarkan data Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas (SKK Migas), terdapat 12 proyek hulu migas yang akan beroperasi (on stream).


Dua proyek di antaranya, yakni proyek Full Well Steam Kedung Keris oleh ExxonMobil Cepu Ltd dengan target produksi 3.800 barel oil per day (bph) dan proyek YY dengan target produksi puncak 4.605 bph dan 25,5 mmscfd oleh PT Pertamina Hulu Energi Offshore North West Java.

"Tidak mungkin Indonesia mengimpor seluruh BBM pada 2025. Sekarang saja sudah ada sejumlah lapangan migas yang akan dikembangkan (PoD) " terang Ediar.

Selain itu, pemerintah juga telah mengarahkan operator migas untuk menjual seluruh minyak yang dihasilkan ke PT Pertamina (Persero) di dalam negeri. Artinya, menyetop ekspor migas. Indonesia juga kaya bahan bakar nabati (BBN). Misalnya, melalui mandatori biodiesel 20 persen pemerintah bisa menghemat impor minyak Solar sebanyak 20 persen setiap tahun. Produksi BBN dihasilkan dari minyak kelapa sawit yang banyak dihasilkan di Indonesia.


Pada 2020, Indonesia akan meningkatkan porsi BBN pada minyak solar menjadi 30 persen. "Bukan main loh, penghematan dari mandatori biodiesel," jelasnya.

Di tengah tren penurunan produksi minyak, pemerintah juga memiliki opsi untuk memanfaatkan etanol maupun BBN lain untuk substitusi BBM fosil. Meski demikian, ia mengakui pengembangannya masih berjalan lamban. Sampai saat ini, kajian pemanfaatannya pun masih berjalan.

Ediar mengingatkan pemerintah terus mengawasi kondisi pasokan dan permintaan BBM masyarakat. Jika melihat potensi krisis, pemerintah disebut tidak akan tinggal diam dan akan mengambil langkah-langkah preventif sejak dini.


(sfr/bir)