Layanan Bolt Dicabut, BEI Terus Pantau Kinerja First Media

CNN Indonesia | Kamis, 03/01/2019 05:53 WIB
Layanan Bolt Dicabut, BEI Terus Pantau Kinerja First Media Ilustrasi. (CNN Indonesia/Rebeca Joy Limardjo).
Jakarta, CNN Indonesia -- Bursa Efek Indonesia (BEI) bakal memantau kinerja keuangan PT First Media Tbk usai Kementerian Komunikasi dan Informatika resmi memberhentikan penggunaan pita frekuensi 2,3 Ghz untuk PT Internux (Bolt), salah satu entitas usaha First Media.

I Gede Nyoman Yetna, Direktur Penilaian Perusahaan BEI mengatakan First Media masih memiliki lini usaha lain yang bisa menopang masa depan perusahaan. Asalkan pendapatan tidak Rp0, maka penutupan layanan Bolt diperkirakan tak signifikan terhadap dompet perusahaan.

"Kami lihat dulu dari kontribusi di laporan keuangan, setelah itu tanya ke mereka berapa persen kontribusinya karena setiap perusahaan tercatat memiliki pertimbangan yang mana yang diberhentikan," tutur Nyoman, Rabu (2/1).



Sejauh ini, Nyoman masih menganggap First Media masih layak untuk menjadi salah penghuni di lantai bursa. Namun, bukan berarti pihaknya akan lepas kontrol terhadap First Media.

"Mereka masih punya lini usaha lain yang bisa dukung kinerja First Media," ujar Nyoman.

Nyoman mengklaim sejauh ini perusahaan cukup kooperatif dengan BEI, karena selalu memberikan keterbukaan informasi yang patut diketahui publik. Kendati demikian, ia masih belum bisa memastikan tenggat waktu pengawasan secara khusus ini dilakukan.

"Kalau kelanjutan usahanya tidak ada masalah, kami tinggal monitor apakah berjalan dengan baik perusahaannya," terang Nyoman.


Dalam keterbukaan informasi, Sekretaris Perusahaan First Media Shinta Melani Paruntu mengatakan pihaknya akan fokus memaksimalkan kinerja lini usaha lainnya.

Divisi bisnis yang dimaksud berada di sektor penyediaan infrastruktur telekomunikasi, jasa nilai tambah kartu panggil, jasa layanan internet, penyediaan konten berita, dan rumah produksi untuk penyediaan iklan dan konten siaran televisi.

"Perusahaan tetap menjalankan kegiatan usahanya dalam bidang telekomunikasi, serta melakukan inkubasi usaha-usaha yang berfokus pada bisnis teknologi, media, dan telekomunikasi," papar Shinta.

Terkait dengan berhentinya layanan Bolt, Shinta juga menjamin bahwa perusahaan tak akan lepas tangan terhadap pelanggan aktif layanan Bolt. Seluruh hak pengguna Bolt dipastikan terpenuhi oleh perusahaan.


"Perusahaan memastikan akan memenuhi kewajibannya kepada seluruh pelanggan Bolt," jelas Shinta.

Sebagai informasi, kinerja First Media semakin memburuk pada kuartal III 2018. Kerugian perusahaan semakin menggunung menjadi Rp2,4 triliun. Angka itu melonjak 184,68 persen dari periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp845,33 miliar.

Sementara itu, saham emiten berkode BKLV ini anjlok 7,14 persen atau 50 poin pada sore ini. Dengan demikian, saham First Media mendarat di level Rp650 per saham. (aud/lav)