Data Makro Membaik, Rupiah 'Perkasa' ke Rp14.416 per Dolar AS

CNN Indonesia | Kamis, 03/01/2019 16:54 WIB
Data Makro Membaik, Rupiah 'Perkasa' ke Rp14.416 per Dolar AS Ilustrasi uang rupiah dan dolar AS. (CNN Indonesia/Hesti Rika).
Jakarta, CNN Indonesia -- Nilai tukar rupiah berada di posisi Rp14.416 per dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan pasar spot Kamis sore (3/1). Posisi ini menguat 42 poin atau 0,28 persen dari posisi kemarin, Rp14.458 per dolar AS.

Sementara kurs referensi Bank Indonesia (BI), Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) menempatkan rupiah di posisi Rp14.474 per dolar AS atau melemah dari kemarin di Rp14.465 per dolar AS.

Di kawasan Asia, rupiah berada di zona hijau bersama yen Jepang 1,01 persen, baht Thailand 0,25 persen, dan dolar Singapura 0,04 persen. Sedangkan dolar Hong Kong stagnan.


Namun, mata uang Asia lainnya tertahan di zona merah. Peso Filipina melemah 0,06 persen, ringgit Malaysia minus 0,12 persen, rupee India minus 0,15 persen, renminbi China minus 0,16 persen, dan won Korea Selatan minus 0,77 persen.


Begitu pula dengan mata uang utama negara maju, mayoritas melemah dari dolar AS. Poundsterling Inggris melemah 0,34 persen, dolar Australia minus 0,31 persen, dan dolar Kanada minus 0,29 persen. Namun, rubel Rusia menguat 0,09 persen, euro Eropa 0,31 persen, dan franc Swiss 0,38 persen.

Analis Garuda Berjangka Ibrahim mengatakan rupiah berhasil menguat karena sentimen positif dari dalam negeri masih bisa menahan tekanan eksternal. Sentimen positif yang membuat ekonomi domestik terjaga antara lain, inflasi rendah 3,13 persen dan realisasi Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) yang cukup baik.

"Dibandingkan mata uang lain, rupiah masih punya penahan tekanan berupa data-data makro yang cukup baik, sehingga tidak melemah seperti kebanyakan mata uang lainnya," ujarnya kepada CNNIndonesia.com, Kamis (3/1).

Meski demikian, di sisi lain Ibrahim melihat sudah mulai terasa sentimen politik ke pergerakan rupiah. Khususnya ketika calon pertahana berhasil mempercantik realisasi penggunaan APBN 2018.


"Karena politik saat ini bukan hanya membahas isu-isu biasa, tapi capaian program kerja dan keekonomian, seperti infrastruktur, utang, dan lainnya," katanya.

Kendati begitu, sentimen dari domestik masih mampu meredam potensi pelemahan mata uang Garuda dari eksternal berupa pelemahan ekonomi global yang ditandai oleh melemahnya indeks manufaktur China.

"Ini sudah menjadi tanda pelemahan ekonomi akibat perang dagang AS-China," terangnya.

Lebih lanjut, ia memperkirakan rupiah akan bergerak di kisaran Rp14.100-15.200 per dolar AS pada tahun ini. Rentang ini mencapai asumsi kurs pemerintah di APBN 2019 sebesar Rp15.000 per dolar AS.

(uli/lav)


ARTIKEL TERKAIT
BACA JUGA