Periskop 2019

Utak-Atik Keranjang Investasi di Tahun Babi Tanah

CNN Indonesia | Senin, 31/12/2018 10:15 WIB
Ilustrasi. (CNN Indonesia/Hesti Rika).
Jakarta, CNN Indonesia -- Sebagian orang menilai tahun baru merupakan awal perubahan hidup dimulai. Namun, sebagian lain menyadari bahwa malam pergantian tahun tak akan mengubah apapun, kecuali ia memang berupaya sungguh-sungguh, termasuk upaya menata keuangan.

Jelang pergantian tahun, masyarakat seringkali disibukkan dengan rancangan resolusi untuk tahun berikutnya, tetapi seringkali abai untuk menyusun ulang portofolio investasi. Padahal, tata kelola investasi berpengaruh besar terhadap lini hidup lain, seperti pendidikan, kesehatan, karier, hubungan personal, bahkan keluarga.

Dalam menyusun ulang portofolio investasi, calon investor hendaknya menyesuaikan dengan tren ekonomi global dan domestik di tahun yang baru. Jika tidak sensitif, imbal hasil yang dikantongi tak akan optimal.


Perencana Keuangan Finansia Consulting Eko Endarto mengatakan faktor yang mempengaruhi investasi di tahun babi tanah ini adalah Pemilihan Presiden (Pilpres) pada April 2019. Eko mengatakan dunia investasi bakal dirundung ketidakpastian, dalam hal hukum dan kebijakan ekonomi.


Untuk itu, Eko menyarankan investor masuk ke instrumen investasi konservatif atau berisiko rendah, seperti deposito, reksa dana pasar uang, obligasi jangka pendek, dan emas. Sebaliknya, investor dianjurkan menahan diri untuk berinvestasi ke sektor properti hingga Pilpres 2019 berakhir.

Selain sentimen pesta demokrasi, sektor properti menghadapi tantangan dari tren kenaikan suku bunga. Terlebih, bank sentral Amerika Serikat (AS) Federal Reserve (The Fed) bakal kembali menaikkan suku bunga pada 2019, meski tak seagresif tahun ini.

Senada, Perencana Keuangan Tatadana Consulting Tejasari Assad menilai Pilpres 2019 akan membayangi iklim investasi tahun depan. Ia meminta investor berhati-hati dan selektif pada investasi saham. Sebab, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sangat rentan dengan kondisi politik yang gamang sebelum Pilpres 2019.

Guna mengetahui profil masing-masing instrumen investasi tahun depan, CNNIndonesia.com mengulasnya sebagai berikut:


Saham

Pesta demokrasi akan memberi angin segar bagi pasar modal. Pendapat terkait prospek saham itu diperoleh dari Analis Indosurya Bersinar Sekuritas William Surya Wijaya. Menurut dia, investor yang menaruh investasinya di saham hendaknya memperhitungkan investasi dalam jangka menengah hingga panjang.

"Pilpres akan membentuk kepastian baru, sehingga memberikan sentimen positif kepada pertumbuhan pasar modal," jelasnya.

Menurut William, portofolio yang menjanjikan pada 2019 adalah saham di sektor infrastruktur telekomunikasi, perbankan, dan ritel. Sebaliknya, ia mengimbau investor untuk mempertimbangkan ulang sebelum membeli saham-saham sektor tambang, terutama untuk transaksi jangka pendek. Alasannya, harga komoditas sedang mengalami tekanan.

"Harga minyak mentah masih mengalami tekanan jadi tidak menutup kemungkinan harga batu bara dan komoditas lain juga akan tertekan. Karena kita tahu turunnya harga minyak mentah akan berpengaruh pada harga komoditas lain," kata William.


Tak jauh berbeda, pengamat pasar modal dan pendiri LBP Institute Lucky bayu Purnomo menuturkan saham yang cukup menarik untuk dikoleksi di tahun politik adalah saham-saham sektor perbankan, consumer good (ritel), dan perkebunan.

Lucky mengatakan kinerja sektor perbankan berada di atas rata-rata kinerja IHSG sehingga perbankan menjadi sektor primadona. Adapun empat saham sektor perbankan yang menjadi rekomendasi Lucky antara lain, saham PT Bank Mandiri Tbk (BMRI), PT Bank Central Asia Tbk (BBCA), PT Bank Rakyat Indonesia (BBRI), dan PT Bank Negara Indonesia (BBNI).

Berbanding terbalik dengan sektor perbankan, kinerja sektor perkebunan yang selama ini tak berpengaruh menggerakkan IHSG juga menghadirkan peluang tahun depan. Oleh karena itu, investor disarankan membeli saham emiten perkebunan berkapitalisasi besar seperti, PT PP London Sumatera Tbk (LSIP) dan PT Astra Agro Lestari Tbk (AALI).

Sementara itu, saham-saham sektor ritel merupakan saham yang sifatnya defensif. Sebab, di tengah tingginya volatilitas pasar akibat tahun politik, arah kebijakan suku bunga The Fed, dan penurunan harga minyak dunia, saham-saham sektor ritel mampu bertahan. Adapun saham-saham yang menjadi rekomendasi Lucky antara lain, PT Indofood Sukses Makmur Tbk (INDF), PT Kimia Farma Tbk (KAEF), dan PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk (ICBP).


"Sektor consumer good sendiri dapat dikatakan sektor pilihan paling seksi," kata Lucky. (ulf/lav)
1 dari 3