BI: Rupiah Menguat Karena Tingginya Kepercayaan Investor

CNN Indonesia | Jumat, 04/01/2019 15:36 WIB
BI: Rupiah Menguat Karena Tingginya Kepercayaan Investor Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo menilai penguatan nilai tukar rupiah pekan ini terjadi akibat tingginya kepercayaan investor terhadap perekonomian Indonesia. (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono).
Jakarta, CNN Indonesia -- Bank Indonesia (BI) menilai penguatan nilai tukar rupiah pekan ini terjadi akibat tingginya kepercayaan investor terhadap perekonomian Indonesia.

Gubernur BI Perry Warjiyo menyebutkan nilai tukar rupiah hari ini, Jumat (4/1), telah berada di level di bawah Rp14.300 per dolar AS. Bahkan, pada pagi hari, kata Perry, rupiah sempat menguat ke level Rp14.270 per dolar AS.

Tingginya kepercayaan investor tercermin dari larisnya lelang Surat Berharga Negara (SBN) yang dilakukan oleh Kementerian Keuangan pekan ini. Dalam hal ini, Kemenkeu mengantongi penawaran lebih dari Rp50 triliun atau lebih dari tiga kali dari target indikatif, meski nilai yang dimenangkan hanya Rp28,2 triliun.


"Kepercayaan investor, baik dalam dan luar negeri, terhadap ekonomi Indonesia dan investasi di aset keuangan Indonesia itu sangat kuat dan sangat baik," ujar Perry di kompleks BI, Jumat (4/1).


Oleh karena sebagian pembeli SBN merupakan investor asing, maka pasokan valuta asing (valas) bertambah di pasar keuangan. Walhasil, hal tersebut mendorong pergerakan rupiah yang stabil.

Mekanisme pasar valas yang berjalan baik, baik di pasar spot maupun Domestic Non Delivery Forward (DNDF), juga mendorong pergerakan rupiah yang stabil dan menguat.

"Level DNDF itu lebih rendah dari offshore NDF (Non Delivery Forward/pasar di luar negeri), semakin menunjukkan semakin bekerjanya pasar DNDF," ujarnya.

Disebutkan Perry, spread DNDF dengan offshore NDF yang biasanya berkisar 50 hingga 51 basis poin (bsp), sekarang berada di bawah 50 bsp.


"Kami juga pantau peserta yang bertransaksi DNDF tidak hanya bank-bank korporasi dalam negeri, tetapi juga investor asing yang semakin banyak menggunakan DNDF dalam melakukan transaksi lindung nilai," ujarnya.

Di sisi eksternal, BI tetap mencermati perkembangan kondisi global. Di satu sisi, meredanya tensi perdagangan antara AS dan China berimbas positif pada perekonomian global.

Selain itu, perlambatan ekonomi China memberikan pengaruh negatif pada ekonomi dunia. BI memperkirakan ekonomi China tahun ini hanya tumbuh di kisaran 6,5 persen, lebih rendah dari 2018 lalu 6,6 persen.

Lebih lanjut, BI tetap mewaspadai perkembangan kebijakan moneter AS. Berdasarkan hasil Rapat Komite Pasar Terbuka AS Desember 2018, tahun ini kenaikan suku bunga acuan AS diperkirakan hanya akan terjadi dua kali. Bahkan, sebagian pelaku pasar memperkirakan hanya akan naik sekali.


Proyeksi tersebut lebih rendah dari proyeksi semula yang mencapai tiga kali. Hal itu menujukkan risiko dari sisi global terhadap perekonomian mereda dibandingkan sebelumnya.

"Masih terjadi risiko tetapi kadar risikonya tidak setinggi yang sebelumnya," ujarnya. (sfr/lav)