Rekor Baru Lagi, Tingkat Kemiskinan RI Turun Jadi 9,66 Persen

CNN Indonesia | Selasa, 15/01/2019 13:10 WIB
Rekor Baru Lagi, Tingkat Kemiskinan RI Turun Jadi 9,66 Persen Ilustrasi kawasan penduduk miskin. (CNN Indonesia/Safir Makki).
Jakarta, CNN Indonesia -- Badan Pusat Statistik (BPS) mengungkapkan tingkat kemiskinan Indonesia pada September 2018 tercatat turun menjadi 25,67 juta orang atau setara 9,66 persen dari total penduduk di Tanah Air.

Persentase penduduk miskin terkini disebut-sebut kembali menoreh rekor terbaru sepanjang sejarah Indonesia, setelah mencetak rekor satu digit pada Maret 2018.

Kepala BPS Suhariyanto menyebutkan jumlah penduduk miskin kali ini menurun dari periode Maret lalu yang sebanyak 25,95 juta orang atau 9,82 persen.


"Artinya ada penurunan jumlah orang penduduk miskin sebanyak 280 ribu orang dari Maret 2018 atau turun 910 ribu orang dari September 2017," ucapnya di Kantor BPS, Selasa (15/1).


Ia menjabarkan penurunan tingkat kemiskinan terjadi karena beberapa faktor. Pertama, upah riil buruh tani per hari yang naik 1,6 persen dibandingkan Maret 2018. Kedua, Nilai Tukar Petani (NTP) naik sebesar 1,21 persen dari 101,94 pada Maret 2018 menjadi 103,17 pada September lalu.

Ketiga, Indeks Harga Konsumen (IHK) mengalami inflasi sebesar 0,94 persen dalam kurun waktu Maret-September 2018. "Ini inflasi yang cukup rendah," imbuhnya.

Keempat, beberapa harga komoditas di tingkat eceran cukup terkendali, bahkan menurun. Mulai dari beras turun 3,28 persen, daging sapi 0,74 persen, minyak goreng 0,92 persen, dan gula pasir 1,48 persen.

Kelima, rata-rata pengeluaran per kapita per bulan penduduk di 40 persen lapisan terbawah pada Maret-September 2018 meningkat 3,55 persen atau lebih tinggi dari garis kemiskinan sebesar 2,36 persen.


Keenam, rata-rata pengeluaran per kapita pada desil 1-4 mengalami peningkatan pada Maret-September 2018, masing-masing naik 3,17 persen, 3,4 persen, 3,46 persen, dan 3,93 persen. "Semua kenaikan ini lebih tinggi dari kenaikan garis kemiskinan pada periode yang sama," terangnya.

Sementara itu, garis kemiskinan nasional tercatat naik 2,36 persen menjadi Rp401.670 per kapita per bulan dari sebelumnya Rp401.220 per kapita per bulan pada Maret 2018.

"Pengaruh garis kemiskinan terbesar mencapai 73,54 persen merupakan makanan, sisanya bukan makanan," jelasnya.

BPS mencatat garis kemiskinan terendah ada di Provinsi Sulawesi Selatan senilai Rp315.738 per kapita dan tertinggi ada di Provinsi Bangka Belitung Rp664.120 per kapita.


Berdasarkan jenisnya, komoditas yang paling berpengaruh pada terhadap garis kemiskinan, yaitu beras, rokok kretek filter, telur ayam ras, daging ayam ras, mie instan, gula pasir, kopi bubuk dan kopi instan, kue basah, tempe, dan tahu.

Terkait pengeluaran bukan makanan yang mempengaruhi kemiskinan antara lain, perumahan, bensin, listrik, pendidikan, dan perlengkapan mandi.

Secara wilayah, jumlah penduduk miskin terbesar ada di Pulau Jawa mencapai 13,34 juta orang, Pulau Sumatera 5,98 juta orang, Pulau Bali dan Nusa Tenggara 2,05 juta orang, Pulau Sulawesi 2,06 juta orang, Pulau Maluku dan Papua 1,53 juta orang, dan Pulau Kalimantan 980 ribu orang. (uli/lav)