Kuartal I 2019, Bank Perketat Penyaluran Kredit

CNN Indonesia | Kamis, 17/01/2019 12:18 WIB
Kuartal I 2019, Bank Perketat Penyaluran Kredit Ilustrasi kegiatan perbankan. (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono).
Jakarta, CNN Indonesia -- Survei Bank Indonesia memperkirakan kebijakan penyaluran kredit perbankan bakal lebih ketat di kuartal I 2019. Pengetatan penyaluran kredit terutama dilakukan pada jenis kredit investasi dan kredit modal kerja, sementara kredit konsumsi bakal lebih longgar.

Hal ini tercermin dari indeks lending standard (ILS) yang tercatat sebesar 14,6 persen, lebih tinggi 1,4 persen dibanding kuartal sebelumnya.

"Aspek kebijakan penyaluran kredit yang diperketat pada kuartal I 2019 adalah tingkat suku bunga kredit," ujar BI dalam survei yang dikutip Kamis (17/1).



Sementara itu, aspek lainnya seperti perjanjian kredit dengan nasabah, persyaratan administrasi, biaya persetujuan kredit, dan jangka waktu kredit bakal lebih longgar di kuartal I 2019.

Responden yang terdiri dari para bankir pada 40 bank umum dengan pangsa pasar terbesar memperkirakan rata-rata bunga kredit perbankan meningkat. Rata-rata bunga kredit modal kerja dan investasi naik masing-masing 5 bps dan 3 bps menjadi 11,69 persen dan 11,84 persen, sedangkan rata-rata bunga kredit konsumsi naik 3 bps menjadi 13,96 persen.

Responden juga memperkirakan pertumbuhan kredit pada kuartal I 2019 akan melambat sesuai dengan pola musimannya. Hal ini tercermin dari SBT permintaan kredit baru yang hanya sebesar 50 persen, lebih rendah dibanding kuartal sebelumnya 71,7 persen.


Perlambatan kredit, menurut responden, didorong oleh rendahnya kebutuhan pembiayaan di awal tahun. Perbankan kemungkinan akan memprioritaskan kredit jenis modal kerja, investasi, dan kemudian konsumsi untuk penyaluran di awal tahun.

Sementara itu, pertumbuhan perbankan pada tahun ini diperkirakan hanya akan mencapai 12,2 persen, lebih rendah dari tahun lalu sebesar 12,88 persen. Sedangkan pertumbuhan dana pihak ketiga (DPK), diperkirakan sedikit meningkat dari tahun sebelumnya. Hal ini tercermin dari saldo bersih tertimbang (SBT) tahun ini sebesar 92,2 persen, lebih rendah dari tahun lalu 91,7 persen.

"Optimisme prakiraan pertumbuhan DPK terutama didorong kenaikan suku bunga dana dan peningkatan pelayanan bank kepada nasabah," jelas BI. (agi)