Darmin Yakin Pelambatan Ekonomi China Tak Berdampak ke RI

CNN Indonesia | Selasa, 22/01/2019 15:01 WIB
Darmin Yakin Pelambatan Ekonomi China Tak Berdampak ke RI Menko Perekonomian Darmin Nasution tak yakin pelambatan ekonomi China akan berdampak besar ke Indonesia. (CNN Indonesia/Safyra Primadhyta)
Jakarta, CNN Indonesia -- Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution yakin pelambatan ekonomi China tidak akan berdampak besar pada ekonomi Indonesia. Menurutnya, peranan selisih ekspor dan impor terhadap perekonomian saat ini masih kecil.

Sebelumnya, Biro Statistik Nasional China merilis pertumbuhan ekonomi Negeri Tirai Bambu pada 2018 kemarin hanya 6,6 persen. Pertumbuhan tersebut melambat dibanding realisasi tahun sebelumnya yang sebesar 6,8 persen.

Padahal, China merupakan negara tujuan ekspor terbesar Indonesia. Sepanjang tahun lalu, ekspor Indonesia ke China mencapai US$24,39 miliar atau sekitar 13,54 persen dari total ekspor yang mencapai US$180,06 miliar.


"(Perlambatan ekonomi China) tentu ada dampaknya (terhadap perekonomian Indonesia), tetapi tidak besar," ujar Darmin di kantornya, Selasa (22/1).


Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), pada kuartal III 2018, porsi ekspor terhadap perekonomian 22,14 persen dan porsi impor dalam perekonomian 22,81 persen. Artinya, konstribusi selisih ekspor dan impor hanya minus 0,67 persen terhadap perekonomian.

Sementara, porsi konsumsi mencapai 55,26 persen dan investasi mencapai 32,12 persen. "Selisih ekspor dan impor sedikit sekali. Dampaknya tidak pernah besar terhadap pertumbuhan," ujarnya.

Sebagai catatan, dalam perekonomian terbuka, total Pendapatan Domestik Bruto (PDB) berasal dari konsumsi, investasi, belanja pemerintah, dan selisih ekspor dan impor. Darmin mengungkapkan perlambatan ekonomi Negeri Tirai Bambu tak lepas dari perang dagang yang terjadi antara China dan Amerika Serikat (AS).

Perang dagang tersebut tidak hanya menekan laju perekonomian China, tetapi juga berimbas negatif pada perekonomian AS, terutama sektor pertanian mereka.


"Petani di Amerika itu sekarang kalang kabut. Walaupun sudah disediakan dana cukup besar oleh Pemerintah AS, tapi, ada penghentian operasional pemerintah, bagaimana bisa uangnya turun?" ujarnya.

Mengingat China-AS merupakan dua perekonomian terbesar di dunia, tak ayal, perekonomian global juga akan terseret. Padahal, perang dagang bukan sesuatu yang bisa dihentikan tiba-tiba.

"Itu adalah bagian dari dampak global yang kami sudah tahu sejak dimulainya perang dagang itu," ujarnya.


Untuk mengantisipasi perlambatan ekonomi China, pemerintah terus berupaya melakukan diversifikasi negara tujuan ekspor seperti ke Timur Tengah dan Afrika. Selain itu, pemerintah juga berupaya mendorong diversifikasi produk ekspor supaya tidak hanya bergantung pada komoditas barang mentah.

Di sisi lain, pemerintah juga akan tetap menjaga konsumsi masyarakat dengan menjaga inflasi sesuai target, 3,5 persen. Selain itu, pemerintah juga mendorong investasi dengan memperbaiki iklim berusaha dan mengerek daya saing. Pemerintah juga akan meningkatkan belanja negara yang berkualitas. (sfr/agt)