Bulog 'Mimpi' Ekspor Beras saat Panen Raya Maret 2019

CNN Indonesia | Selasa, 22/01/2019 19:44 WIB
Bulog 'Mimpi' Ekspor Beras saat Panen Raya Maret 2019 Ilustrasi beras. (CNN Indonesia/Hesti Rika)
Jakarta, CNN Indonesia -- Perusahaan Umum Badan Urusan Logistik (Perum Bulog) berkeinginan untuk mengekspor beras saat masa panen raya pada Maret mendatang. Ekspor bakal dilakukan jika gudang beras milik Bulog tak cukup menyerap beras hasil panen raya.

Direktur Utama Perum Bulog Budi Waseso menyebut gudang Bulog saat ini telah terisi sebanyak 2,1 juta ton beras. Dengan kondisi tersebut, pihaknya hanya mampu menyerap 1,8 juta ton beras dari hasil panen raya.

"Di Maret hingga April nanti, mungkin kami akan menyerap 1,8 juta ton dan kami tidak bisa menyerap lebih banyak lagi. Kami sedang berpikir untuk menjual hasil produksi panen beras petani ke beberapa negara karena mungkin mereka butuh dari Indonesia," jelas pria yang akrab disapa Buwas ini di Kementerian Koordinator bidang Perekonomian, Selasa (22/1).



Di samping itu menurutnya, ekspor ini juga ditujukan agar harga gabah yang diterima petani tak anjlok. Sebab, sesuai hukum permintaan dan penawaran, lonjakan suplai akan bikin harga beras turun jika permintaan dianggap tetap.

Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS), harga Gabah Kering Panen (GKP) yang diterima petani selalu melandai di masa panen. Pada Maret 2017, harga GKP turun 5,72 persen dibanding bulan sebelumnya dan kemudian turun lagi sebesar 1,54 persen di bulan April. Hal serupa juga terjadi pada 2018, di mana GKP bulan Maret turun 8,35 persen dibanding bukan sebelumnya, lalu turun lagi 4,16 persen di bulan April.

Kendati demikian, menurut dia, jadi atau tidaknya ekspor ini tetap tergantung pada produksi beras nantinya. "Kami akan lihat panennya, dan kami komunikasi sejak sekarang. Jangan sampai Indonesia banjir produksi, nanti petani dirugikan. Oleh karena itu kami ekspor," papar dia.


Saat ini, Buwas megaku pihaknya sudah melakukan pembicaraan dengan beberapa negara di Asia agar ekspor ini bisa terealisasi. Hanya saja, ia enggan menyebut negara apa saja yang akan disasar.

"Intinya, kami memprediksi panen raya akan menghasilkan jumlah cukup besar. Sementara kami tidak bisa menyerap secara keseluruhannya," pungkas dia.

Kondisi ini berbanding terbalik dibanding tahun lalu, di mana Indonesia getol mengimpor beras. Tahun lalu, pemerintah menerbitkan tiga kali izin impor beras dengan volume 2 juta ton yang terdiri dari 500 ribu ton di izin pertama, 500 ribu ton di izin kedua, dan 1 juta ton di izin ketiga. Keputusan ini didasarkan rakortas masing-masing pada 15 Januari 2018, 19 Maret 2018, serta 28 Maret 2018.

Namun, pemerintah mencatat realisasi impor beras yang berhasil dilakukan hanya sebesar 1,8 juta ton lantaran kontrak impor dari India sebanyak 200 ribu ton gagal disepakati. (glh/agi)