Kementan Klaim Naikkan Mutu Karet 220 Ribu Ton pada 2018

CNN Indonesia | Sabtu, 12/01/2019 13:00 WIB
Kementan Klaim Naikkan Mutu Karet 220 Ribu Ton pada 2018 Ilustrasi karet mentah. (Kham).
Jakarta, CNN Indonesia -- Kementerian Pertanian (Kementan) mengklaim telah menaikkan mutu produksi karet sebanyak 220 ribu ton sepanjang 2018, atau 5,4 persen dari total produksi karet yang sebanyak 3,7 juta ton. Alhasil, hal itu berimbas pada kenaikan harga jual komoditas tersebut.

Direktur Jenderal Perkebunan Kementan Bambang mengatakan harga karet sebelumnya berada di kisaran Rp5.000 hingga Rp6.000 per kilogram (kg), kini harga karet sudah mencapai Rp10 ribu per kg.

"Sudah terjadi peningkatan mutu bahan olahan karet (bokar) di beberapa lokasi. Dengan peningkatan mutu bokar, itu menjamin peningkataan harga Rp5.000 per kg," jelas Bambang di Kementerian Koordinator bidang Perekonomian, Jumat (11/1).



Bambang menuturkan peningkatan kualitas ini terlihat dari Kadar Karet Kering (KKK). Sesuai Peraturan Menteri Pertanian Nomor 38 Tahun 2008 tentang Pedoman Pengolahan dan Pemasangan Bahan Olah Karet, baku mutu lateks kebun tidak boleh lebih dari 20 persen.

"Itu bisa digunakan untuk macam-macam kebutuhan. Tapi KKK juga tergantung masing-masing pasar, tergantung industri," jelas dia.

Sementara itu, Bambang menyebut pembinaan produksi karet demi menaikkan mutunya tetap akan berlanjut di tahun ini. Hanya saja, ia tidak menjelaskan berapa volume produksi karet yang bisa "naik pangkat" sepanjang 2019.


Rencananya, karet berkualitas tinggi ini bisa digunakan sebagai campuran aspal. Namun, ia masih menunggu kajian dari Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) dan Kementerian Perindustrian terkait spesifikasi karet yang dibutuhkan.

"Harus ada spesifikasi teknis agar bisa memenuhi kualifikasi pengolahan karet untuk aspal. Sehingga, kami dorong dulu treatment (perlakuan) kepada petani," tutup Bambang.

Sebelumya, pemerintah menyiapkan dana senilai Rp20 miliar untuk menyerap 2.542 ton karet pada 2019 yang rencananya digunakan sebagai bahan campuran pembuatan aspal. Aspal tersebut digunakan untuk pembangunan jalan di Sumatera Selatan, Palembang, Lampung, dan Jambi.


Langkah ini ditempuh untuk mengantisipasi harga karet yang kian melandai. Penggunaan aspal karet sebelumnya sudah diterapkan dalam penanganan jalan nasional, antara lain di ruas Beliti - Tebing Tinggi - Lahan pada 2017 hingga 2018 sepanjang 125 kilometer (km). (rim/lav)