Menko Luhut Pastikan Uni Eropa Tak Bisa Dikte RI soal Sawit

CNN Indonesia | Selasa, 29/01/2019 20:00 WIB
Menko Luhut Pastikan Uni Eropa Tak Bisa Dikte RI soal Sawit Menteri Kemaritiman Luhut Binsar Pandjaitan memastikan pemerintah tidak akan didikte oleh negara-negara di dunia, khususnya Uni Eropa terkait perdagangan sawit. (CNN Indonesia/Harvey Darian)
Jakarta, CNN Indonesia -- Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman Luhut Binsar Pandjaitan memastikan pemerintah tidak akan pernah didikte oleh negara-negara di dunia, khususnya Uni Eropa terkait hubungan perdagangan minyak sawit mentah (Crude Palm Oils/CPO).

Hal ini diungkap Luhut sesuai pernyataannya saat menghadiri World Economic Forum (WEF) yang digelar di Davos, Swiss pada pekan lalu.

"Ini untuk semuanya (termasuk Uni Eropa). Kami selalu dengarkan masukan, tapi kami (Indonesia) bukan negara miskin, kami negara kuat. Kami sangat terbuka, tapi jangan mendikte kami," ujarnya di Istana Negara, Selasa (29/1).


Pernyataan soal dikte ini merupakan tanggapan pemerintah atas berbagai tudingan deforestasi dari beberapa negara yang menjegal ekspor CPO dan produk turunannya asal Indonesia. Hal ini dilakukan Uni Eropa dalam beberapa tahun terakhir.


Menurut dia, pemerintah dan kalangan dunia usaha sebenarnya sudah gencar menepis isu deforestasi dan menyatakan bahwa industri CPO Indonesia sangat konsen pada keberlanjutan. Hal ini ditandai dengan kebijakan moratorium guna meremajakan lahan perkebunan sawit.

Pemerintah juga melakukan standarisasi atas produk CPO dan turunannya melalui Indonesian Sustainable Palm Oil System (ISPO). "Masalah lingkungan ini tidak perlu diajari. Kami tahu kalau merusak lingkungan itu merusak generasi yang akan datang," imbuhnya.

Lebih lanjut ia mengatakan pemerintah bakal terus memperjuangkan industri sawit yang saat ini menjadi penyumbang devisa terbesar. Industri sawit juga disebut mempekerjakan sekitar 17,5 juta petani.

"Kalau petani menderita, itu akan jadi masalah buat kami karena SDGs (target pembangunan berkelanjutan) nomor satu tentang kemiskinan. Jadi kami akan selesaikan dengan program sawit," terangnya.


Forum Lanjutan

Tak hanya membahas sawit, Luhut bilang kehadirannya di WEF guna mewakili Indonesia membahas beberapa isu lain, seperti pengelolaan lingkungan atas sampah plastik hingga instrumen pembiayaan campuran (blended finance).

"Kami juga bicara agar generasi yang akan datang tidak stunting (pendek), harus sehat dan kuat," ujarnya.

Hasil pembicaraan di WEF akan ditindaklanjuti pada forum serupa di Jakarta pada 12 Maret mendatang. Forum itu akan mengundang para perwakilan negara yang sudah terlibat di WEF, Bank Dunia, kalangan usaha Amerika Serikat (AS), UNEF, hingga lembaga internasional lain.

"Di forum ini, kami akan mendengarkan penjelasan soal tiga hal tadi (sawit, isu lingkungan, dan blended finance). Tapi secara keseluruhan, mereka mengapresiasi Indonesia karena membuat kemajuan yang sangat signifikan," pungkasnya. (uli/agi)