Resmi Merger, Bank Asal Jepang Kempit 97,34 Persen Saham BTPN

CNN Indonesia | Jumat, 01/02/2019 10:07 WIB
Resmi Merger, Bank Asal Jepang Kempit 97,34 Persen Saham BTPN SMBC, bank terbesar kedua asal Jepang, resmi mengempit 97,34 persen saham PT BTPN Tbk. Keduanya efektif melebur pada Jumat, 1 Februari 2019. (CNN Indonesia/Yuliyanna Fauzi).
Jakarta, CNN Indonesia -- Sumitomo Mitsui Banking Corporation (SMBC), bank terbesar kedua yang berbasis di Jepang, resmi mengempit 97,34 persen saham PT Bank Tabungan Pensiunan Nasional Tbk (BTPN). Aksi korporasi merger ini melahirkan nama baru, meski tanpa embel-embel SMBC, yakni PT Bank BTPN Tbk.

Lewat aksi korporasi, keduanya juga akan melebur bisnis yang selama ini menjadi fokus masing-masing perusahaan. Seperti diketahui, BTPN banyak bermain di segmen kredit mikro, pensiunan, dan digital, seperti Jenius dan BTPN Wow.

Sementara, SMBC dikenal dengan segmen bisnis korporasi dan melayani korporasi asal Jepang yang berusaha di Tanah Air. "Merger ini merupakan perpaduan ideal. Kami akan menguatkan cross-selling untuk menambah daya saing di pasar," tutur Ongki Wanadjati, Direktur Utama Bank BTPN, Kamis (31/1).


Ke depan, sambung dia, portofolio bisnis Bank BTPN akan terdiri dari ritel 50 persen dan korporat 50 persen, sembari mengembangkan segmen bisnis baru, yaitu usaha kecil dan menengah, serta komersial.


Sekadar informasi, peleburan BTPN dan SMBC menghasilkan total aset Rp189,9 triliun per Desember 2018. Sementara, kreditnya menjadi Rp133,25 triliun yang porsinya fifty-fifty dari BTPN dan SMBC.

Modal inti Bank BTPN pun melompat menjadi Rp25 triliun. Dengan rasio kecukupan modal (Capital Adequacy Ratio/CAR) 22,9 persen atau jauh di atas ketentuan OJK, yakni 11 persen.


Adapun, tanggal efektif penggabungan kedua bank tersebut jatuh pada hari ini, Jumat, 1 Februari 2019. Pada waktu yang sama, dewan komisaris dan direksi mengalami perubahan.

Ongki sebelumnya menjabat sebagai Wakil Direktur Utama BTPN, kini menduduki kursi sebagai orang nomor satu. Ia akan didampingi oleh Kazuhisa Miyagawa, Dini Herdini, Yasuhiro Daikoku, Henoch Munandar, Adrianus Dani Prabawa, Hiromichi Kubo, dan Merisa Darwis.

Sementara, di jajaran dewan komisaris adalah Mari Elka Pangestu, Chow Ying Hoong, Takeshi Kimoto, dan Ninik Herlani Masli Ridhwan. (bir)