Bank BTPN Incar Modal Tembus Rp30 Triliun pada 2021

CNN Indonesia | Jumat, 01/02/2019 14:41 WIB
Bank BTPN Incar Modal Tembus Rp30 Triliun pada 2021 BTPN mengaku hanya mengandalkan penambahan modal secara organik atau laba ditahan untuk mencapai modal inti Rp30 triliun dan masuk kelompok BUKU 4. (CNN Indonesia/Dinda Audriene Muthmainah).
Jakarta, CNN Indonesia -- PT Bank BTPN Tbk mengincar naik kelas menjadi perusahaan yang masuk dalam Bank Umum Kelompok Usaha (BUKU) 4 atau bermodal Rp30 triliun lebih pada 2021 mendatang. Perusahaan mengaku hanya mengandalkan penambahan modal dari sisi organik saja, yakni laba ditahan.

Direktur Utama BTPN Ongki Wanadjati Dana mengatakan jumlah modal inti perusahaan usai merger dengan Sumitomo Mitsui Banking Corporation (SMBC) sebesar Rp25 triliun, meningkat dari sebelum merger hanya Rp16,47 triliun.

"Benar bahwa aspirasi jangka panjang menjadi bank BUKU 4 dengan modal inti Rp30 triliun," ujar Ongki, Jumat (1/2).


Saat ini, perbankan dibagi dalam empat kategori BUKU. Untuk BUKU 1 adalah bank yang memiliki modal inti kurang dari Rp1 triliun, modal inti BUKU 2 Rp1 triliun-Rp5 triliun, BUKU 3 Rp5 triliun-Rp30 triliun, dan BUKU 4 minimal Rp30 triliun.

Sesuai ketentuan BUKU, makin tinggi permodalannya, maka bank makin leluas menjalankan bisnis. Bank pada kelompok BUKU 4 memiliki keleluasaan dalam melakukan penyertaan hingga 35 persen pada lembaga keuangan di dalam dan luar negeri dengan cakupan yang lebih luas dari BUKU 3 yang hanya terbatas sebesar 25 persen dan untuk kawasan Asia saja.


Selain itu bank kelompok BUKU 4 juga dapat keistimewaan untuk menjadi Qualified ASEAN Bank (QAB) atau mendapat perlakukan yang sama dengan bank lokal saat berekspansi ke negara ASEA lainnya.

Ongki mengaku sejauh ini pihaknya belum memiliki rencana jangka panjang setelah menjadi BUKU 4. Namun, ia tak menampik bahwa BTPN juga ingin berekspansi dengan membuka cabang di luar negeri, khususnya ASEAN.

"Bahwa benar bank BUKU 4 bisa menjadi bank qualified ASEAN banks (bebas beroperasi di kawasan ASEAN). Tapi kami integrasi dulu setelah merger ini agar lancar," jelas Ongki.

Ongki mengatakan perusahaan juga belum memiliki rencana untuk mencari pendanaan eksternal untuk menambah modal usai melakukan merger. Menurutnya, rasio kecukupan modal atau capital adequacy ratio (CAR) saat ini dinilainya sudah ideal, yakni 22,9 persen.

Peningkatan modal untuk menjadi BUKU 4 juga akan dilakukan secara organik melalui laba ditahan.


Sasar Porsi Kredit Korporasi 50 Persen

Ongki mengaku, saat ini perusahaan akan fokus dulu pada perubahan target segmentasi kredit dari sebelumnya fokus pada ritel, kini juga merambah pada kredit korporasi. Hal ini seiring dengan fokus kredit SMBC pada korporasi.

Selama ini, BPTN berfokus pada penyaluran kredit segmen UMKM dan pensiunan. Sedangkan PT Sumitomo Mitsui Indonesia fokus pada kredit korporasi.

"Kami juga mau kembangkan dulu kredit kelas menengah dan komersial. Melayani segmen yang belum pernah kami sentuh," tutur Ongki.

Namun, Ongki enggan menjelaskan target pertumbuhan kredit secara keseluruhan tahun ini. Hal yang pasti, ia berharap penyaluran kredit bisa lebih menggeliat dan sejalan dengan industri.


Pada 2018, perusahaan tercatat hanya membukukan kredit Rp60,86 triliun atau naik 2,64 persen dari posisi 2017 sebesar Rp59,29 triliun. Namun, usai merger dilakukan jumlahnya melesat menjadi Rp133,25 triliun. Angka itu ditambah dengan kredit SMBC pada 2018.

"Target kredit saya tidak bisa berikan, tapi kami ingin lebih baik dan bisa tumbuh," imbuh Ongki.

Ia menekankan perusahaan juga akan mengembangkan kredit pensiunan dan mikro. Namun, pengembangan kredit tersebut, menurut dia, akan dilakukan lebih efisien dengan melakukan transformasi bisnis.

Dari sisi digital, Ongki menambahkan tak ada hal yang baru yang akan dirilis tahun ini. Hanya saja, perusahaan berpotensi menambah beberapa fitur baru untuk aplikasi Jenius.

"Terobosan baru tidak ada, hanya fitur misalnya untuk bisnis," pungkas Ongki. (aud/agi)