Surat Utang dan Untungnya Bagi Mereka yang Doyan 'Mengoleksi'

CNN Indonesia | Senin, 11/02/2019 15:55 WIB
Surat Utang dan Untungnya Bagi Mereka yang Doyan 'Mengoleksi' Ilustrasi surat utang. (CNNIndonesia/Adhi Wicaksono).
Jakarta, CNN Indonesia -- Pasangan Calon Presiden dan Wakil Presiden, Prabowo Subianto dan Sandiaga Uno kerap mengkritik utang yang dicetak pemerintahan Presiden Joko Widodo. Meski demikian, ternyata kedua pasangan ini memiliki produk investasi yang cukup besar pada instrumen surat berharga, yang dapat berupa surat utang hingga saham.

Apa sebenarnya surat berharga?

Mengacu kepada Undang-undang Nomor 8 Tahun 1995, Pasar Modal, surat berharga ialah surat pengakuan utang, surat berharga komersial, saham, obligasi, dan tanda bukti utang, unit penyertaan kontrak investasi kolektif, kontrak berjangka atas Efek, dan setiap derivatif dari Efek.


Sementara dalam situs resmi Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko Kementerian Keuangan, surat utang negara adalah surat berharga yang merupakan pengakuan utang dalam mata uang rupiah maupun valuta asing yang dijamin pembayaran bunga dan pokoknya oleh Negara Republik Indonesia sesuai masa berlaku (tenor).

Dari sisi pemerintah, surat utang negara bermanfaat untuk membiayai defisit APBN. Penggunaan SUN sendiri tak spesifik untuk membiayai anggaran tertentu, tetapi untuk menutup defisit APBN secara menyeluruh akibat belanja infrastruktur, belanja barang, belanja gaji, dan belanja lainnya.


Penerbitannya pun tak bisa dilakukan sembarangan karena harus mendapat persetujuan DPR.

Selain pemerintah, korporasi juga sering kali menerbitkan surat berharga sebagai sumber pembiayaan baik untuk modal kerja maupun ekspansi bisnis. Surat berharga yang diterbitkan, antara lain juga dapat berupa surat utang, baik jangka pendek menengah (Medium Term Notes/MTN) hingga jangka panjang atau obligasi.

Lalu apa manfaatnya bagi investor?

Surat utang, baik surat utang negara maupun surat utang korporasi dapat menjadi instrumen investasi yang menguntungkan dengan risiko yang cukup rendah.

Saat ini, pemerintah juga kian 'rajin' memperbanyak instrumen surat utang yang dapat dibeli langsung oleh masyarakat, seperti Obligasi Ritel Indonesia (ORI), Sukuk RI (Sukri), Savings Bond Ritel (SBR), dan Sukuk Tabungan.

Perencana Keuangan OneShildt Budi Rahardjo menjelaskan ORI dan produk SBN pemerintah lainnya dapat menjadi pilihan investasi bagi investor yang tetap ingin konservatif atau tak terlalu berisiko, tetapi mendapat imbal hasil lebih tinggi dari deposito.


Tata cara membeli ORI dan surat berharga negara lainnya sendiri terbilang mudah saat ini. Tak hanya melalui perbankan, investor juga bisa membeli produk investasi tersebut melalui perusahaan sekuritas secara online dan financial technology (fintech) yang menjadi mitra distribusi pemerintah.

Budi menjabarkan investor bisa secara langsung datang ke bank dan perusahaan sekuritas yang menjadi mitra distribusi pemerintah untuk membeli ORI, sukri, hingga SBR dan sukuk tabungan. Jika malas, investor juga bisa langsung registrasi di fintech yang ditunjuk pemerintah.

Kendati demikian, produk investasi yang diterbitkan pemerintah tak seperti saham yang bisa dibeli kapan pun. Pembelian hanya dapat dilakukan saat pemerintah menerbitkan produk tersebut.

Saat ini, salah satu produk investasi yang ditawarkan pemerintah adalah Sukuk Tabungan 003. Produk investasi ini menawarkan imbal hasil hingga 8,15 persen, dengan pembelian mulai dari Rp1 juta hingga maksimal Rp3 miliar dan jangka waktu 2 tahun.

Imbal hasil investasi tersebut jauh berada di atas rata-rata bunga deposito yang kini berada di kisaran 5-6 persen.


Perbedaan bunga tersebut dalam berinvestasi, menurut Budi, cukup signifikan.

Ekonom Samuel Sekuritas Lana Soelistianingsih menambahkan investasi surat utang yang diterbitkan pemerintah lebih aman ketimbang surat utang korporasi. Hal ini lantaran pemerintah tak pernah mengalami gagal bayar, berbeda dengan surat utang korporasi yang memiliki potensi lebih besar untuk gagal bayar.

Oleh karena itu, biasanya korporasi cenderung menawarkan surat utang dengan imbal hasil yang lebih tinggi dari surat berharga pemerintah.

"Kalau perusahaan tidak mampu membayar atau dinyatakan bangkrut oleh pengadilan, maka pemilik obligasi akan mendapat uangnya lebih dulu daripada pemegang saham," imbuh dia.

Surat utang korporasi biasanya juga tak diperjualbelikan secara ritel. Namun, investor ritel bisa membeli surat utang korporasi melalui manajer investasi yang mengumpulkan investor secara kolektif. (agi/bir)