Neraca Dagang Diprediksi Masih Defisit Sepanjang 2019

CNN Indonesia | Sabtu, 16/02/2019 05:30 WIB
Neraca Dagang Diprediksi Masih Defisit Sepanjang 2019 Ilustrasi aktivitas ekspor impor. (CNN Indonesia/ Hesti Rika).
Jakarta, CNN Indonesia -- Neraca perdagangan Indonesia diperkirakan masih berlanjut defisit hingga sepanjang tahun ini, karena kondisi ekspor impor di Indonesia tahun ini masih akan tertekan oleh pelemahan ekonomi global. Pada Januari 2019, neraca dagang tercatat defisit US$1,16 miliar.

Direktur Eksekutif Center of Reform on Economics (CORE) Mohammad Faisal mengatakan tekanan akan muncul, baik dari sisi ekspor maupun impor. Dari sisi ekspor, performa Indonesia tahun ini tidak akan prima lantaran pertumbuhan ekonomi global diprediksi melandai.

Terbukti, International Monetary Fund (IMF) merevisi proyeksi pertumbuhan ekonomi dari 3,7 persen ke 3,5 persen tahun ini, sementara Bank Dunia memprediksi laju ekonomi 2019 hanya 3 persen, atau lebih rendah dari tahun lalu 2,9 persen. Pertumbuhan ekonomi dunia yang melambat tentu membuat permintaan barang asal Indonesia juga menurun.



Terlebih, pertumbuhan ekonomi negara mitra-mitra dagang utama Indonesia juga melemah. Sebut saja China yang baru-baru ini diprediksi melambat ke angka 6,3 persen. Padahal, merujuk data Badan Pusat Statistik (BPS), China merupakan negara tujuan utama ekspor Indonesia dengan porsi 13,52 persen dari total ekspor Indonesia.

"Sebetulnya kalau kasus defisit ini adalah perlambatan ekonomi dunia, dan sepertinya ini akan menjadi tantangan Indonesia hingga akhir tahun mendatang," jelas Faisal, Jumat (15/2).

Di sisi lain, impor sebetulnya menunjukkan penurunan pada Januari kemarin. BPS mencatat, total impor Januari sebesar US$15,03 miliar menurun 1,83 persen dibanding Januari 2018. Hanya saja, yang menjadi perhatian adalah impor nonmigas, di mana angkanya naik dari US$13,05 miliar di Januari tahun lalu menjadi US$13,34 miliar di tahun ini.


Strategi yang paling tepat untuk mengobati defisit neraca perdagangan di sisa tahun ini ialah menurunkan impor. Caranya, dengan memilah impor hanya yang berdampak signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi.

Kebijakan ini dirasa perlu lantaran impor adalah hal yang paling bisa dikendalikan oleh pemerintah dalam menangani defisit neraca perdagangan. Sebab, Indonesia dianggapnya masih agak sulit mengejar ekspor karena terganjal masalah fundamental, yakni perlambatan ekonomi.

"Tapi harus dilihat juga. Jangan sampai pengurangan impor ini kontra produktif bagi produksi dalam negeri. Kalau dilihat, 76,2 persen impor Januari lalu adalah bahan baku dan bahan penolong, jadi kalau komponen itu mau disortir, cari yang benar-benar tidak berdampak langsung ke pertumbuhan ekonomi," papar dia.


Pemerintah sebelumnya memang telah menelurkan kebijakan demi menghalau impor dengan menaikkan Pajak Penghasilan (PPh) 22 impor bagi 1.147 pos tarif. Namun, jika kebijakan itu tak dilanjuti dengan regulasi lain, ia khawatir kejadian 2018 terulang lagi.

Tahun lalu, defisit neraca perdagangan mencatat US$8,56 miliar, atau mencapai defisit terparah sejak 2013 silam. "Sudah cukup kita belajar dari kejadian yang terjadi 2018 kemarin," terangnya.

Sebelumnya, BPS mencatat neraca perdagangan Indonesia kembali defisit sebesar US$1,16 miliar pada Januari 2019 atau melebar sedikit dibandingkan defisit bulan sebelumnya yang mencapai US$1,1 miliar. Ini lantaran ekspor Indonesia sebesar US$14,55 miliar lebih kecil dari impor, yakni US$15,31 miliar. (glh/lav)