Prabowo Yakin RI Bisa Swasembada Energi dengan Kelapa Sawit

CNN Indonesia | Minggu, 17/02/2019 21:44 WIB
Prabowo Yakin RI Bisa Swasembada Energi dengan Kelapa Sawit Calon Presiden Prabowo Subianto optimistis Indonesia bisa mencapai swasembada di bidang energi melalui optimalisasi pemanfaatan sawit sebagai bahan bakar. (CNN Indonesia/Hesti Rika).
Jakarta, CNN Indonesia -- Calon Presiden Prabowo Subianto dalam debat capres kedua optimistis Indonesia bisa mencapai swasembada di bidang energi melalui optimalisasi pemanfaatan sawit sebagai bahan bakar energi. Karena itu, Prabowo ingin lebih berani dari Malaysia dalam meningkatkan porsi perkebunan inti rakyat (PIR) yang masih minim.

"Kita tingkatkan mungkin (perkebunan) plasma lebih banyak sehingga rakyat lebih memiliki hak atas kerja keras mereka dan produk mereka," ujar Prabowo saat menghadiri debat capres kedua di Hotel Sultan Jakarta, Minggu (17/2).

Saat ini, Prabowo menyebutkan porsi perkebunan rakyat masih 20 persen. Untuk itu, ia ingin mengerek porsinya mencapai 80 persen.



Prabowo mengungkapkan produk sawit bisa dimanfaatkan untuk bahan bakar hijau maupun diesel hijau. Di Brazil, porsi campuran biodiesel tidak hanya 20 persen seperti yang saat ini dilakukan di Indonesia, tetapi sudah 90 persen.

Bahan bakar dari kelapa sawit bisa menjadi tambahan dari bahan bakar fosil. Selama ini, Indonesia masih mengimpor kebutuhan bahan bakarnya karena produksi yang lebih kecil dari kebutuhannya.

"Kita dalam waktu dekat menjadi net importir. Kita akan impor 100 persen bahan bakar kita. Maka itu kita sekarang punya peluang dari kelapa sawit," ujarnya.


Selain kelapa sawit, Prabowo juga akan menggenjot produksi etanol dari aren, singkong, hingga gula.

"Semua kita gunakan untuk kita bisa untuk tidak impor bahan energi luar negeri itu strategi kita," ujarnya.

Menanggapi hal tersebut, Jokowi menyebutkan bahwa produksi sawit Indonesia mencapai 46 juta ton per tahun dengan melibatkan 16 juta petani nasional.


Selain itu, Jokowi juga mengingatkan saat ini pemerintah telah memulai program B20 dan sudah berjalan sekitar 98 persen. Ke depan, porsinya akan ditingkatkan sehingga Indonesia bisa mengurangi porsi impor bahan bakarnya.

"Kita menuju ke B100 sehingga kita harapkan 30 persen dari total produksi kelapa sawit masuk ke biofuel," ujarnya.