Tahun Lalu, Bank Asing Raup Laba Bersih Rp8,61 Triliun

CNN Indonesia | Selasa, 05/03/2019 08:52 WIB
Tahun Lalu, Bank Asing Raup Laba Bersih Rp8,61 Triliun Bank asing yang beroperasi di Indonesia meraup laba bersih Rp8,61 triliun pada 2018 lalu atau naik 10,71 persen dibanding tahun sebelumnya, yaitu Rp7,78 triliun. (CNN Indonesia/Safir Makki).
Jakarta, CNN Indonesia -- Industri bank asing berstatus Kantor Cabang Bank Asing (KCBA) meraup laba bersih Rp8,61 triliun hingga akhir tahun lalu. Pencapaian itu tercatat tumbuh 10,71 persen dibandingkan realisasi 2017 lalu yang sebesar Rp7,78 triliun.

Statistik Perbankan Indonesia (SPI) yang dirilis laman Otoritas Jasa Keuangan (OJK) melansir pertumbuhan laba bank asing ditopang kinerjanya yang kinclong. Dari sisi kredit, misalnya, meningkat 22,27 persen menjadi Rp258,59 triliun.

Selain itu, pendapatan bunganya juga terkerek naik dari Rp20,50 triliun pada 2017 menjadi Rp21,31 triliun pada 2018. Sementara, beban bunganya turun 3,88 persen menjadi hanya Rp5,44 triliun.


Salah satu bank asing yang mencatat kinerja kinclong, yakni Standard Chartered Bank Indonesia. Laba bersih bank yang bermarkas di London, Inggris, tersebut melonjak 371 persen menjadi Rp536,26 miliar pada 2018 dibanding tahun sebelumnya, yaitu Rp113,7 miliar.

CEO Stanchart Rino Donosepoetro mengaku pencapaian laba bersih ini tertinggi sejak 2014 lalu. "Keberhasilan strategi transformasi yang kami lakukan sejak 2017 lalu telah mendorong kemajuan yang signifikan dalam mengoptimalisasi potensi yang ada," kata Rino saat paparan kinerja Stanchart di Hotel Raffles Kuningan, Jakarta, Senin (4/3).

Adapun, kreditnya bertumbuh 16,82 persen menjadi Rp32,7 triliun pada akhir tahun lalu. Kontribusi bisnis berasal dari segmen korporasi dan institusi sebanyak 36 persen atau menjadi Rp2,15 triliun.


"Pertumbuhan didukung oleh arus bisnis, seperti pasar keuangan, bisnis transaksi yang meliputi trade finance, cash management, layanan sekuritas, dan kredit perusahaan," imbuh dia.

Selain itu, kualitas kredit yang disalurkan perusahaan juga membaik. Tercermin dari rasio kredit macet (nonperforming loan/NPL) yang melorot dari 3,9 persen menjadi hanya 2,2 persen.


(ulf/bir)