Bank Mandiri Belum Ada Komunikasi Soal Akuisisi Bank Permata

CNN Indonesia | Rabu, 06/03/2019 10:28 WIB
Bank Mandiri Belum Ada Komunikasi Soal Akuisisi Bank Permata Ilustrasi. (Adhi Wicaksono).
Jakarta, CNN Indonesia -- PT Bank Mandiri (Persero) Tbk menampik kabar yang menyebutkan bahwa perseroan berencana mengakuisisi PT Bank Permata Tbk. Kabar akuisisi tersebut merebak lantaran Standard Chartered Bank, salah satu pemegang saham Bank Permata berencana melepas saham atau divestasi.

Sekretaris Perusahaan Bank Mandiri Rohan Hafas mengatakan perseroan memang berencana membeli kepemilikan saham sebuah perusahaan di sektor jasa keuangan pada tahun ini. Khususnya bank dengan skala menengah. Rencana tersebut telah disampaikan kepada pasar sejak akhir tahun lalu.

Namun, perseroan belum membidik satu nama pasti untuk diakuisisi, apalagi merujuk pada Bank Permata. Bahkan, masing-masing bank belum melakukan komunikasi apapun.


"Kalau obrolan, itu belum, karena kami kan perlu beritahu dulu (ke pemilik saham), minta izin dulu. Belum ada tawaran juga, apa-apa juga belum. Kami hanya bilang kami punya minat, tapi bukan ke bank tertentu," ucap Rohan, Selasa (5/3).


Lebih lanjut, Rohan menambahkan perseroan juga sebenarnya belum memasukkan rencana akuisisi tersebut ke dalam laporan Rencana Bisnis Bank (RBB) 2019 yang biasanya diserahkan ke Otoritas Jasa Keuangan (OJK) sejak akhir tahun.

"Kami belum masukkan ke RBB akhir tahun kemarin, mungkin nanti baru dimasukkan di Juni 2019," katanya.

Bersamaan dengan masih sangat awal rencana tersebut, Rohan mengatakan perbankan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) itu juga belum menentukan seperti apa skema bisnis yang akan dijalankan. Misalnya, akan melakukan penggabungan alias merger dengan lini bisnis Bank Mandiri atau akan membentuk segmen bisnis sendiri.

Meski begitu, Rohan mengatakan bank berlogo pita emas ini tidak menutup pintu terhadap kemungkinan mengakuisisi Bank Permata. Hal yang pasti, perbankan pelat merah itu menekankan akuisisi harus bisa memberi nilai tambah dan melengkapi segmen bisnis perseroan.


"Kalau cocok apa saja bisa, mungkin Permata ini disinggung karena Standard Chartered mau jual (saham). Tapi sebenarnya kami sudah lebih dulu cari dari dulu. Pokoknya yang cakep, yang murah, bisa saja (diakuisisi)," jelasnya.

Sementara itu, Head Corporate Affairs Bank Permata Richele Maramis enggan buka suara soal isu rencana akuisisi perusahaannya oleh Bank Mandiri. Ia juga enggan menanggapi apakah sudah ada komunikasi diantara kedua bank tersebut.

"Kami tidak dapat berkomentar tentang isu tersebut. Apapun terkait isu calon investor maupun urusan pemegang saham bukan di ranah kami," ungkapnya kepada CNNIndonesia.com.

Sebelumnya, kabar akuisisi muncul karena Standard Chartered Bank berencana melepas saham Bank Permata. Sampai saat ini, Standard Chartered Bank tercatat memegang 44,56 persen saham Bank Permata.


Kabar divestasi sebenarnya sudah berhembus sejak 2015 saat kinerja bank tersebut mulai menurun. Namun, hal tersebut beberapa kali dibantah oleh Standard Chartered Bank.

Penurunan kinerja Bank Permata mulai terlihat sejak 2015. Kala itu, laba perseroan anjlok 84 persen dari 1,59 triliun tahun sebelumnya menjadi Rp247 miliar. Pada 2016, Bank Permata bahkan mencatatkan rugi mencapai Rp6,48 triliun.

Richele pun turut enggan berkomentar soal rencana divestasi saham dari bank yang berkantor pusat di London, Inggris itu. "Kami belum menerima informasi apapun," katanya. (uli/lav)