Tangan-tangan Kecil di Balik Proyek Raksasa MRT Jakarta

CNN Indonesia | Selasa, 12/03/2019 10:28 WIB
Tangan-tangan Kecil di Balik Proyek Raksasa MRT Jakarta Para pekerja proyek MRT Jakarta. (CNN Indonesia/Andry Novelino).
Jakarta, CNN Indonesia -- Sejumlah pekerja proyek Mass Rapid Transit (MRT) di dekat stasiun Blok M tengah asyik bermain game online di ponselnya masing-masing. Mereka sedang beristirahat sore sebelum memulai bekerja lagi pada pukul 19.00 WIB.

Kemarin, Senin (11/3) merupakan hari-hari terakhir para pekerja MRT menghabiskan waktu bersama. Kontrak kerja sebagian besar dari mereka habis pada 12 Maret 2019 atau hari pertama uji coba publik MRT dilakukan.

Masih memelototi ponsel androidnya, Asep bercerita sudah siap-siap untuk pulang kampung ke Banten setelah kontrak kerjanya habis. Pekerjaan baru yang belum ia dapatkan menjadi satu-satunya alasan kembali ke kampung halaman.


"Ya sambil nunggu-nunggu panggilan lagi, pulang saja dulu," ungkap Asep kepada CNNIndonesia.com.

Tak mudah memang mendapatkan pekerjaan baru di ibu kota. Kondisi ini tak hanya satu atau dua kali ia rasakan. Setelah ikut menjadi salah satu pekerja proyek, Asep kerap menjadi pengangguran hingga ada panggilan untuk mengerjakan proyek baru.

"Sebenarnya susah-susah gampang sampai ada kerjaan baru ya. Kalau banyak proyek ya gampang, kalau proyek dikit ya susah," kata dia.


Sembari menunggu panggilan pekerjaan baru, Asep memilih untuk tak membuka usaha di kampungnya. Ia lebih suka menghabiskan waktu dengan berisitirahat usai bekerja keras di Jakarta.

Untungnya, dia juga belum memiliki istri dan anak. Maka itu, Asep masih bisa bersantai sejenak tanpa harus pusing memikirkan finansial untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Dalam sehari, pria berumur 22 tahun ini mendapatkan upah sekitar Rp170 ribu. Upah itu di dapat jika ia bekerja sejak pukul 08.00-16.00 WIB dan berlanjut pukul 19.00-21.00 WIB. Namun, jika hanya memilih bekerja hanya pada 08.00-16.00 WIB, ia hanya mengantongi uang Rp110 ribu sepulang bekerja.

"Uang sebesar itu kadang cukup kadang tidak. Kalau lagi banyak keperluan ya tidak cukup, tapi belum ada keluarga sih jadi memenuhi kebutuhan sendiri," papar Asep.

Senasib, Ikhsan, sahabat Asep yang juga menjadi pekerja di MRT dekat stasiun Tanah Abang akan pulang ke Banten setelah masa kerjanya habis di Jakarta. Pasalnya, hidup di ibu kota tentu membutuhkan modal yang tak sedikit.
Salah satu pekerja MRT Jakarta. (CNN Indonesia/Andry Novelino)

Selagi tidak ada pekerjaan, pria yang lebih muda satu tahun dari Asep ini juga tak punya alasan untuk berlama-lama di Jakarta. Dia sadar biaya kontrakan, makan, dan kebutuhan lainnya tak bisa dipenuhi jika menganggur.

"Daripada di Jakarta uang bisa habis lagi, lebih baik pulang kampung. Kalau sudah ada panggilan kerja lagi ya ke Jakarta lagi," ungkap Ikhsan.

Kebetulan, keduanya berada di bawah naungan perusahaan konstruksi PT Jaya Obayashi. Ikhsan menyebutkan bahwa perusahaan itu sempat mengajaknya dan Asep untuk mengerjakan proyek baru di kawasan Kuningan. Namun, sejauh ini belum ada info lebih lanjut mengenai hal itu.

"Katanya sih nanti dikabarin lebih lanjut akhir bulan ini, ya Maret ini," ucap Ikhsan.

Menjadi pekerja di proyek bukanlah pengalaman pertama untuk Ikhsan. Sebelumnya, ia juga sempat bekerja menjadi tukang las di bengkel milik saudaranya di Jakarta.


Jauh dari itu, dia juga pernah membuka usaha ternak ayam. Sayang, nasibnya saat itu tidak baik. Semua ayamnya mati terkena hama.

Kejadian itu tak membuatnya kapok. Ikhsan masih bercita-cita untuk membuka peternakan kerbau di Banten. Tapi, ia masih terkendala modal saat ini.

"Uangnya belum cukup, jadi ditabung dulu," kata Ikhsan.

Dengan selesainya tugas Asep dan Ikhsan, keduanya mengaku ini menjadi kali pertama mengerjakan proyek besar, yakni MRT. Tak jarang, keduanya kena omel oleh tim keamanan proyek jika lupa menggunakan perlengkapan yang wajib digunakan siapa pun yang berada dalam kawasan proyek tersebut.

"Tadi juga barusan dimarahin, nih saya disuruh turun. Di sini memang ketat. Tapi kerja seperti ini banyak sukanya kok," pungkas dia.

Asep dan Ikhsan adalah dua dari sekitar 10 ribu pekerja yang terlibat dalam pengerjaan proyek MRT Fase I rute Bundaran HI-Lebak Bulus. Proyek bernilai Rp16 triliun ini dikerjakan sejak Oktober 2013.


Direktur Utama PT MRT Jakarta William Sabandar pada bulan lalu menyebut jumlah tenaga kerja MRT saat ini berkisar 550. Jumlah itu terbagi dari 350 pekerja yang berada di lapangan yang mengoperasikan kereta dan 200 pekerja yang berada di kantor pusat.

Itu belum termasuk tenaga keamanan dan petugas kebersihan. "Untuk tenaga keamanan dan petugas kebersihan kira-kira 1200 orang," tambah Willy dalam kesempatan yang sama.

Uji coba MRT fase I untuk masyarakat umum rencananya akan digelar hingga 24 Maret 2019. Sementara operasional moda transportasi ini secara penuh dijadwalkan mulai akhir bulan ini.

Setelah merampungkan fase I, MRT Jakarta rencananya akan segera membangun MRT fase II dengan rute Bundaran HI-Kota. (aud/lav)


FOKUS

Uji Coba MRT