Tarif Wajar, Sri Mulyani Sebut MRT Bisa Saingi Grab dan Gojek

CNN Indonesia | Rabu, 06/03/2019 20:17 WIB
Tarif Wajar, Sri Mulyani Sebut MRT Bisa Saingi Grab dan Gojek Menteri Keuangan Sri Mulyani menjajal MRT Jakarta. (Media Center Kemenkeu).
Jakarta, CNN Indonesia -- Kehadiran moda raya terpadu berbasis rel listrik (Mass Rapid Transit/MRT) Jakarta dinilai bisa menyaingi transportasi ojek via daring (online), seperti Grab dan Gojek yang selama ini telah memenuhi kebutuhan masyarakat atas transportasi massal.

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengungkapkan biaya perjalanan ketika menggunakan MRT sebesar Rp10 ribu per 12 kilometer (Km) untuk sekali jalan, dalam jarak tempuh Stasiun Lebak Bulus-Bundaran Hotel Indonesia.

"Tapi kalau berhenti hanya dari stasiun ke stasiun lain mungkin hanya membayar Rp2.500, jadi ini nanti saingannya dengan mereka yang harus naik Grab dan Gojek. Itu adalah kompetisinya," ujar Ani, begitu ia akrab disapa, di Stasiun MRT Senayan, Jakarta Selatan, Rabu (6/3).


Kehadiran MRT juga bisa menjadi sumber ekonomi baru. Pasalnya, kehadiran stasiun MRT membuka peluang usaha bagi toko (merchant) yang ingin berjualan. Selain itu, ada pula peluang kerja sama iklan antara pihak MRT dengan sejumlah perusahaan dari berbagai bidang usaha.


Selain memberi dampak kerja sama antara MRT dengan beberapa pihak, kehadiran toko dan kerja sama lain akan pula melahirkan kegiatan ekonomi yang melibatkan masyarakat, khususnya pengguna MRT. Sebab, pengguna bisa berbelanja di dalam stasiun MRT yang berjumlah 13 stasiun untuk rute Bundaran HI-Lebak Bulus.

"Bahkan perusahaan swasta meminta agar stasiun itu diberi nama (sesuai) perusahaannya, itu akan menimbulkan penerimaan. Lalu, properti di dalamnya, sudah disewa oleh perusahaan yang tentu akan menimbulkan biaya sewa dan kegiatan ekonomi," ucapnya.

Tak hanya di dalam stasiun, sambungnya, kegiatan ekonomi tentu juga akan tercipta di luar stasiun. Menurutnya, akan ada kecenderungan dibangunnya pusat perbelanjaan hingga perkantoran yang dekat dengan stasiun MRT.

"Karena ada arus dari 130 ribu orang per hari setiap 5 menit. Bayangkan ada flow (arus) mobilitas manusia yang keluar masuk, sehingga ada permintaan dari sisi makanan, minuman, hingga tempat tinggal," katanya.


Meski begitu, menurutnya, memang kehadiran MRT bisa pula menimbulkan dinamika ekonomi. Misalnya, peningkatan harga jual properti dan sewa gedung-gedung yang berada di sekitar stasiun karena memiliki nilai tambah yang tinggi.

Namun, hal ini masih perlu dihitung lebih rinci oleh para pihak terlibat, khususnya Badan Kebijakan Fiskal (BKF) Kementerian Keuangan. "Data pastinya masih akan kami lihat dampaknya," imbuhnya.

Di sisi lain, kehadiran MRT juga memberikan peningkatan bagi pertumbuhan ekonomi. Sebab, masyarakat bisa menempuh perjalanan dengan waktu dan biaya yang lebih rendah, sehingga bisa memicu produktivitas dan konsumsi bagi keperluan lain.

Kemudian, dari sisi makro, kehadiran MRT saat ini bisa menjadi salah satu peluang untuk menarik investasi untuk pembangunan MRT fase selanjutnya. Lebih lanjut, realisasi investasi itu bisa menjadi upaya untuk turut menggenjot pertumbuhan ekonomi Tanah Air.

(uli/lav)