Garuda Masih Punya Pesanan 49 Pesawat Boeing 737 MAX 8

CNN Indonesia | Rabu, 13/03/2019 19:13 WIB
Garuda Masih Punya Pesanan 49 Pesawat Boeing 737 MAX 8 Ilustrasi pesawat Garuda Indonesia. (REUTERS/Darren Whiteside).
Jakarta, CNN Indonesia -- PT Garuda Indonesia Tbk (GIAA) mengaku belum memiliki rencana untuk menunda pemesanan pesawat Boeing 737 Max 8 seperti yang dilakukan oleh Lion Air Group. Manajemen masih menunggu hasil investigasi Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) dan Federal Aviation Administration (FAA).

I Wayan Susena, Direktur Teknik Garuda Indonesia mengungkapkan pihaknya telah melakukan komitmen pembelian 50 pesawat Boeing 737 Max 8. Satu pesawat sudah datang pada Desember 2017 lalu, sehingga masih ada proses pengiriman untuk 49 pesawat.

"Sisanya bagaimana kami belum bisa komentar yang sisa pemesanan itu. Kami masih menunggu hasil investigasi," ucap Susena, Rabu (13/3).



Ia mengatakan untuk tahun ini tak ada jadwal pengiriman dari Boeing. Pengiriman baru akan dilakukan lagi pada 2020 sebanyak satu pesawat. Ini artinya rencana bisnis Garuda Indonesia dengan Boeing masih berjalan sesuai kesepakatan awal.

"Sejauh ini kami hanya diskusi internal," imbuh Susena.

Terkait apakah ada kemungkinan mengganti pesanannya dengan pesawat Boeing jenis lain, dia belum bisa memastikannya. Menurutnya, hal itu lagi-lagi menunggu hasil investigasi dari KNKT dan FAA.


Investigasi yang dimaksud, yakni pemeriksaan jatuhnya pesawat Lion Air di perairan Tanjung Pakis, Karawang, Jawa Barat, 29 Oktober 2018 lalu dan Ethiopia pada 10 Maret 2019.

Sementara itu, Managing Director Lion Air Group Daniel Putut Kuncoro mengatakan telah melakukan negosiasi ulang dengan Boeing terkait sisa pesanan pesawat sebanyak 200 unit. Hal itu dilakukan pasca armadanya jatuh pada tahun lalu.

"Kami total 222 pesawat, sudah dikirim 11 tinggal sisanya. Negosiasi masih terus berlangsung," ucap Daniel.

[Gambas:Video CNN]

Ia menambahkan bahwa perusahaan belum menentukan sikap apakah akan benar-benar menyetop pemesanan atau hanya menunda pengiriman saja. Lagi-lagi, hal itu akan menanti hasil investigasi KNKT dan FAA.

"Belum sampai pada arah pemberhentian total. Masih diskusi," pungkas Daniel. (aud/agi)