ANALISIS

'Link and Match' Jangan Sekadar Lengkapi Mesin Ekonomi

CNN Indonesia | Senin, 18/03/2019 17:37 WIB
'Link and Match' Jangan Sekadar Lengkapi Mesin Ekonomi Ilustrasi. (ANTARA FOTO/Rivan Awal Lingga).
Jakarta, CNN Indonesia -- Debat Pemilihan Presiden 2019 yang dilakukan oleh dua calon wakil presiden menyisakan sejumlah pernyataan menarik di sektor ekonomi. Salah satunya terkait strategi link and match (pengaitan dan pencocokan) antara sektor pendidikan dan dunia usaha demi mengurangi tingkat pengangguran nasional.

Calon Wakil Presiden Nomor Urut 01 Ma'ruf Amin mengaku akan meningkatkan kualitas tenaga kerja melalui revitalisasi pendidikan. Selanjutnya, mengembangkan latihan dan kursus melalui balai latihan kerja sekaligus memperkenalkan dengan dunia usaha.

Tak hanya itu, Ma'ruf juga mengaku akan mendorong tenaga kerja agar mampu menguasai teknologi digital demi menghadapi revolusi industri 4.0. Jika terpilih, Ma'ruf menjanjikan pemerintah akan melanjutkan perlindungan terhadap tenaga kerja di luar negeri.


"Tenaga kita harus disiapkan agar lebih siap menghadapi tantangan ke depan ten years challenge," ujar Ma'ruf dalam salah satu sesi debat, Minggu (17/3) malam.


Di sisi lain, Calon Wakil Presiden Nomor Urut 02 Sandiaga Uno mengatakan akan mendorong link and match antara dunia pendidikan dan dunia usaha. Hal itu dilakukan untuk mengatasi jumlah pengangguran tinggi, terutama yang berasal dari angkatan muda.

"One stop service Rumah Siap Kerja akan me-link and match keahlian ke dunia usaha," tuturnya.

Menanggapi hal tersebut, Sukamdi, Pakar Tenaga Kerja Pusat Studi Kependudukan dan Kebijakan Universitas Gadjah Mada mengatakan persoalan yang mendasar sejak dulu ialah perencanaan di sektor pendidikan dan dunia usaha memang tidak pernah sejalan beriringan. Kedua sektor memiliki perencanaan masing-masing dan berjalan sendiri-sendiri.

"Contoh paling kelihatan, tidak ada regulasi bidang pendidikan yang didasari pada need assesment kebutuhan tenaga kerjanya seperti apa. Saat ini prodi (program pendidikan) bikin sendiri, tapi ternyata tidak dibutuhkan," ujarnya kepada CNNIndonesia.com, Senin (18/3).


Dia menilai pemerintah kini dihadapkan pada tantangan revolusi industri 4.0 yang membutuhkan respons segera. Salah satu solusi yang tepat ialah dengan melakukan revitalisasi edukasi vokasional.

"Pendidikan kita tertinggal jauh dengan negara tetangga, pemerintah harus benar-benar menggarap sekolah vokasi. Tentu harus melahirkan orang yang punya kompetensi yang dibutuhkan pasar, termasuk merespons revolusi industri 4.0. Itu sangat penting," katanya.

Kendati demikian, Dosen Fakultas Geografi Universitas Gadjah Mada itu memaklumi ketidaksinkronan yang sering terjadi antara dunia pendidikan dan dunia usaha.

Menurut dia, konsep link and match antara kedua sektor menafikkan bahwa sektor pendidikan memiliki fungsi ideal untuk mencerdaskan bangsa, bukan sekadar memenuhi kebutuhan dunia usaha dan memproduksi mur bagi mesin-mesin ekonomi .


"Konsep link and match bukan hanya mencocokkan supply and demand dunia usaha, sehingga tidak harus strict bahwa bidang yang dikembangkan itu yang dibutuhkan pasar," tuturnya.

Sukamdi menambahkan jangan sampai kebijakan link and match antara dunia pendidikan dan dunia usaha menekankan sisi kognitif atau ranah kemampuan berpikir, tetapi tidak ada fokus dari peningkatan sisi afektif berupa sikap dan nilai-nilai kehidupan.

"Jangan sampai kebijakan link and match membuat pendidikan nanti menekankan sisi kognitif tapi afektif-nya tidak ada, nanti akan kacau jadinya," ungkapnya.

[Gambas:Video CNN] (lav/agt)