Luhut Desak Maskapai Evaluasi Tarif Tiket Pesawat 'Selangit'

CNN Indonesia | Rabu, 27/03/2019 19:09 WIB
Luhut Desak Maskapai Evaluasi Tarif Tiket Pesawat 'Selangit' Ilustrasi. (CNN Indonesia/Safir Makki).
Jakarta, CNN Indonesia -- Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman Luhut Binsar Panjaitan meminta seluruh maskapai penerbangan untuk mengevaluasi tarif tiket pesawat, lantaran masyarakat masih mengeluhkan harga tiket yang mahal.

Luhut mengaku akan memberikan waktu kepada maskapai untuk menghitung ulang formula tarif mereka, kemudian melakukan penyesuaian tarif tiket.

"Mereka alasan sana-sini tapi saya bilang, saya juga bisa hitung. Makanya mereka sekarang evaluasi lagi hitungannya. Kami lihat dalam beberapa hari ke depan, mungkin minggu depan," kata Luhut di kantor Kemenko Maritim, Rabu (27/3).


Ia meminta maskapai untuk mempertimbangkan harga avtur yang telah diturunkan oleh PT Pertamina (Persero). Pada Sabtu (16/1) lalu, Pertamina telah menurunkan harga avtur sebesar Rp250 per liter, yakni dari sebelumnya Rp8.210 per liter menjadi Rp7.960 per liter.


Penurunan avtur hendaknya diikuti dengan penyesuaian tarif tiket oleh maskapai. Namun faktanya, hingga saat ini masyarakat masih mengeluhkan harga tiket yang tinggi. Kenaikan harga tiket bahkan turut berimbas pada penurunan jumlah wisatawan.

"Selama ini mungkin ia (maskapai) tidak menghitung harga bensin atau fuel bakal turun. Kan sudah diturunin-turunin, masak kamu (maskapai) mau menaikkan terus," tuturnya.

Sebelumnya, beredar notulensi rapat bertempat di Kantor Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman pada 25 Maret 2019 pukul 15.30. Notulensi itu memiliki kepala surat Persatuan Hotel Republik Indonesia (PHRI).

Mengutip notulensi itu, Rabu (27/3) rapat dihadiri oleh dua menteri, yaitu menteri Luhut dan Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi. Selain itu, hadir Ketua Umum PHRI Hariyadi Sukamdani dan Wakil Ketua Umum PHRI Maulana Yusran.


Adapula nama operator maskapai penerbangan, yaitu Garuda Indonesia, Citilink, Lion Air, dan Air Asia. Rapat itu juga dihadiri oleh Indonesia National Air Carrier Association (INACA), dan Online Travel Agent (OTA) yaitu Traveloka dan Tiket.com.

Dalam notulensi itu disebutkan bahwa Luhut sangat menyesali harga tiket pesawat tidak pernah turun, padahal pemerintah sudah sering mengimbau operator maskapai penerbangan.

"Masalah airlines ticket menimbulkan banyak persepsi di masyarakat dan dapat menimbulkan kegaduhan persepsi," demikian tertulis dari notulensi yang beredar.

Dalam notulensi itu juga dicantumkan kesimpulan rapat dari Luhut, Budi Karya Sumadi, dan Hariyadi. Ada empat poin kesimpulan dari Luhut: Pertama, Garuda Indonesia sebagai leading nasional airlines (maskapai penerbangan terkemuka) harus segera menurunkan harga tiket dan itu merupakan perintah.


Kedua, Menko akan menghubungi pihak terkait agar izin PT AKR Corporindo dapat dipercepat dan diberikan tanggal 1 April 2019 agar segera menjadi kompetitor PT Pertamina (Persero) dan menyediakan avtur bagi pesawat.

Ketiga, penurunan harga tiket untuk semua rute adalah wajib demi kepentingan nasional dan harus dilakukan segera terhitung awal April 2019. Keempat, Menko Maritim menyesalkan karena Direktur Utama Garuda Indonesia tidak hadir dalam rapat.

Saat dikonfirmasi oleh CNNIndonesia.com, Hariyadi enggan berkomentar terkait notulensi tersebut. Ia meminta masyarakat menunggu pengumaman resmi dari pemerintah tarkait tarif tiket pesawat.

"Tunggu saja minggu depan akan ada pengumuman dari Menteri Perhubungan, biar dari pemerintah yang menyampaikan," katanya.

[Gambas:Video CNN]

Sementara itu, sumber CNNIndonesia.com membenarkan adanya rapat di Kantor Kemenko Maritim. Rapat itu berlangsung dua kali berturut-turut, yaitu pada Senin (25/3) dan Selasa (26/3). Dalam rapat tersebut, Luhut dan Budi Karya meminta maskapai penerbangan untuk menurunkan tarif tiket. (ulf/lav)