Bertemu KPPU, AirAsia Beberkan Kronologi Tiket Lenyap di OTA

CNN Indonesia | Senin, 25/03/2019 19:51 WIB
Bertemu KPPU, AirAsia Beberkan Kronologi Tiket Lenyap di OTA Ilustrasi. (REUTERS/Olivia Harris).
Jakarta, CNN Indonesia -- Maskapai AirAsia Indonesia menyampaikan kronologis atas penjualan tiket pesawat yang hilang di sejumlah agen perjalanan daring (Online Travel Agent/OTA) dalam pertemuan dengan Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) yang berlangsung hari ini, Senin (25/3).

Tiket AirAsia tak lagi dijual di beberapa OTA pada Februari dan awal Maret 2019 lalu. Beberapa di antaranya traveloka.com dan tiket.com.

Dalam pertemuan tersebut, Direktur Niaga AirAsia Indonesia Rifai Taberi menyampaikan kejanggalan yang ditemui perusahaan. Salah satunya, respons yang lambat dari OTA pada saat tiket perusahaan menghilang dari kanal penjualan.


"Kami komunikasi tidak dijawab. Biasanya, kalau sistem lagi rusak komunikasi rutin. System down itu sering kalau di IT. Kalau yang normal, antar IT perusahaan akan kejar-kejaran," ujar Rifai usai memenuhi panggilan Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) di kantor KPPU, Senin (25/3).


Sampai saat ini, perusahaan belum berniat untuk menyampaikan laporan secara resmi kepada KPPU. Kendati demikian, AirAsia akan kooperatif jika KPPU memerlukan informasi seperti diskusi yang dilakukan hari ini.

"Kami berusaha kooperatif menyampaikan kepada semua penyidik," ujarnya.

Pada awal Maret 2019 lalu, perusahaan memutuskan untuk mencabut kerja sama penjualan tiket penerbangan dari Traveloka secara permanen. Namun, Rifai menyatakan perusahaan masih terbuka untuk berbicara lebih lanjut, jika Traveloka memiliki itikad baik.

"Sejauh ini belum ada pembicaraan formal dari mereka (Traveloka)," ujarnya.


Dalam kesempatan tersebut, Rifai mengaku pihaknya masih berharap bisa menjual tiket kembali di sejumlah OTA yang sebelumnya bermasalah. Hal itu dilakukan agar penumpang memiliki banyak akses untuk mendapatkan tiket.

"Kami berharap semua menjadi normal lagi iklimnya," tutur Rifai

Menurut dia, penumpang memiliki preferensi masing-masing terkait akses penjualan tiket yang disukai. Saat ini, sekitar 60 persen penjualan tiket berasal dari situs resmi maskapai, 20 persen OTA, dan 20 persen sisanya berasal dari agen konvensional.

"Semakin kami bisa diakses dari semuanya semakin bagus buat kami," ujarnya.


Kendati demikian, Rifai mengaku penjualan tiket perusahaan tidak terganggu, meski perusahaan telah mencabut kerja sama penjualan tiket dengan beberapa OTA.

Secara terpisah, Komisioner KPPU Guntur Syahputra Saragih mengungkapkan KPPU memiliki kepentingan untuk menindak pelanggaran hukum persaingan demi melindungi kepentingan publik.

Maka itu, meski belum mendapatkan laporan dari AirAsia, KPPU telah berinisiatif untuk melakukan penelitian dan pengumpulan informasi terhadap kasus hilangnya tiket AirAsia tersebut.

"Kepentingan KPPU adalah penegakkan hukum administrasi," ujarnya.

[Gambas:Video CNN]

Jika terdapat potensi pelanggaran persaingan usaha yang tidak sehat, dalam hal ini upaya blokir yang disengaja, KPPU bisa menaikkan statusnya ke dalam tahap penyelidikan. (sfr/lav)