Rupiah Menguat Tipis ke Rp14.242 per Dolar AS Pagi Ini

Galih Gumelar, CNN Indonesia | Jumat, 29/03/2019 08:47 WIB
Rupiah Menguat Tipis ke Rp14.242 per Dolar AS Pagi Ini Ilustrasi nilai tukar rupiah. (CNN Indonesia/Hesti Rika)
Jakarta, CNN Indonesia -- Nilai tukar rupiah berada di posisi per Rp14.240 per dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan pasar spot Jumat (29/3) pagi. Posisi ini menguat tipis 0,5 persen dibandingkan penutupan pada Kamis (28/3) yakni Rp14.243 per dolar AS.

Pagi ini, sebagian besar mata uang utama Asia menguat terhadap dolar AS. Peso Filipina menguat 0,17 persen, baht Thailand menguat 0,15 persen, dolar Singapura menguat 0,07 persen, dan won Korea Selatan menguat 0,05 persen. Namun, ada juga mata uang yang melemah, seperti ringgit Malaysia sebesar 0,01 persen dan yen Jepang sebesar 0,14 persen.

Begitu pun dengan negara maju yang menguat terhadap dolar AS. Poundsterling Inggris menguat 0,13 persen, euro menguat 0,07 persen, dan dolar Australia menguat 0,11 persen.

Direktur Utama PT Garuda Berjangka Ibrahim mengatakan pergerakan pagi ini dikendalikan oleh pesimisme atas ekonomi AS. Setelah sebelumnya tanda resesi ditunjukkan dengan imbal hasil surat berharga AS bertenor pendek yang lebih tinggi dari tenor panjang, atau biasa disebut inverted yield curve.


Dalam 50 tahun terakhir, setiap resesi di AS selalu diawali dengan inversi yield di seri obligasi pemerintah tiga bulan dan 10 tahun. Namun, kini jeda imbal hasil keduanya makin besar. Oleh karena itu, kekhawatiran soal ancaman resesi yang sempat redup kini terulang lagi.

Pasar juga bereaksi negatif terhadap rilis data transaksi berjalan AS yang membukukan defisit sebesar US$488,5 miliar atau 2,4 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB). Ini merupakan defisit terdalam sejak 2008.

Kemudian, prospek transaksi berjalan pada kuartal I-2019 juga tidak terlalu cerah karena defisit neraca perdagangan yang dalam pada Januari. Pada bulan pertama 2019, AS mencatatkan defisit neraca perdagangan sebesar US$ 51,1 miliar.

Dengan aura perlambatan ekonomi yang semakin nyata, tentu bank sentral AS The Fed masih akan bersikap dovish dengan tidak akan menaikkan suku bunga acuannya. Aset berisiko di negara berkembang akan dinimati pelaku pasar.


Meski demikian, pelaku pasar juga menanti kemajuan cerainya Inggris dari Uni Eropa atau biasa disebut Brexit. Pada Jumat ini, parlemen Inggris akan mengadakan pemungutan suara terkait keputusan akhir mengenai Brexit, apakah menolak seluruh usulan Perdana Menteri Theresa May atau memilih opsi lain.

Jika opsi lain yang dipilih, maka pilihan Inggris ada dua. Apakah kembali menunda perpanjangan kesepakatan Brexit atau keluar dari Uni Eropa 12 April mendatang tanpa kompensasi apa-apa.

"Jadi pada hari ini ada kemungkinan rupiah melemah. Tapi ini masih dalam rentang Rp14.204 per dolar AS hingga Rp14.270 per dolar AS," jelas Ibrahim, Jumat (29/3).


(agi)