Rupiah Stagnan Lawan Dolar AS pada Akhir Pekan

CNN Indonesia | Jumat, 29/03/2019 16:49 WIB
Rupiah Stagnan Lawan Dolar AS pada Akhir Pekan Ilustrasi. (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono).
Jakarta, CNN Indonesia -- Nilai tukar rupiah berada di posisi Rp14.242 per dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan pasar spot Jumat (29/3) sore. Dengan demikian, rupiah sama sekali tak bergerak dari posisi perdagangan Kamis (28/3) sore yang sama-sama berada di angka Rp14.242 per dolar AS.

Sementara itu, kurs referensi Bank Indonesia Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) menempatkan rupiah di posisi Rp14.244 per dolar AS atau menguat dibanding kemarin yakni Rp14.255 per dolar AS. Adapun pada hari ini, rupiah diperdagangkan dalam rentang Rp14.223 hingga Rp14.246 per dolar AS.

Hari ini, pergerakan mata uang utama Asia terhadap dolar AS terbilang bervariasi. Ada yang melemah seperti ringgit Malaysia 0,12 persen dan yen Jepang yang melemah 0,15 persen. Sementara itu dolar Hong Kong tidak bergeming terhadap dolar AS.


Sementara itu, mata uang yang menguat terhadap dolar AS antara lain dolar Singapura sebesar 0,08 persen, won Korea Selatan sebesar 0,14 persen, rupee India sebesar 0,2 persen, dan yuan China sebesar 0,28 persen. Kemudian, baht Thailand dan peso Filipina kini menjadi jawara Asia dengan masing-masing penguatan di angka 0,37 persen dan 0,47 persen.

Mata uang negara maju juga bergerak bervariasi. Poundsterling Inggris melemah 0,13 persen, sementara dolar Australia menguat 0,18 persen dan euro menguat 0,01 persen.

Direktur Utama PT Garuda Berjangka Ibrahim mengatakan rupiah hari ini mendapatkan dukungan dan tekanan.

Sentimen positif hari ini berasal dari Bank Sentral Eropa yang kemungkinan masih akan menahan suku bunga rendah dalam jangka waktu lebih lama. Bahkan, Bank Sentral Eropa berencana memperkenalkan suku bunga deposito berjenjang, sehingga ini membuat investor meninggalkan euro.

Tak hanya itu, sentimen perang dagang AS dan China yang kian membaik memperlemah dolar AS. Kini, delegasi kedua negara tengah berada di Beijing untuk membicarakan pertemuan dua kepala negara yang sedianya akan berlangsung setelahnya.

"Ketika dagang AS dan China damai, sentimen ini terbukti ampuh melemahkan dolar AS," ujar Ibrahim, Jumat (29/3).

Namun, rupiah juga mengalami tekanan karena ada arus modal keluar dari negara berkembang, seiring tingginya minat pada lelang obligasi AS.

Untuk obligasi pemerintah bertenor satu bulan, penawaran yang masuk adalah US$150,53 miliar dengan nominal yang dimenangkan sebesar US$50 miliar. Kemudian untuk tenor dua bulan, pemerintah AS mengambil US$35 miliar dari US$108,83 penawaran yang masuk.

"Derasnya aliran modal yang masuk di pasar obligasi menyebabkan dolar AS menguat. Selain itu, arus modal di pasar obligasi juga membuat yield bergerak turun," imbuh dia.

[Gambas:Video CNN] (glh/lav)