Rupiah 'Unjuk Gigi' ke Posisi Rp14.100 per Dolar AS

CNN Indonesia | Kamis, 04/04/2019 08:49 WIB
Rupiah 'Unjuk Gigi' ke Posisi Rp14.100 per Dolar AS Ilustrasi dolar AS dan rupiah. (ANTARA FOTO/Widodo S. Jusuf).
Jakarta, CNN Indonesia -- Nilai tukar rupiah berada di posisi Rp14.192 per dolar AS pada perdagangan pasar spot Kamis (4/4) pagi. Rupiah menguat 0,22 persen terhadap dolar AS dibandingkan Selasa (2/3) di angka Rp14.223 per dolar AS.

Pagi ini, sebagian besar mata uang utama Asia menguat terhadap dolar AS. Baht Thailand menguat 0,09 persen, dolar Singapura 0,07 persen, won Korea Selatan menguat 0,03 persen, dan yen Jepang menguat 0,01 persen. Sementara itu, dolar Hong Kong dan ringgit Malaysia tak bergerak terhadap dolar AS.

Di Asia, hanya peso Filipina saja yang melemah terhadap dolar AS dengan angka 0,07 persen. Sementara, mata uang negara maju mengalami penguatan, seperti euro sebesar 0,1 persen dan poundsterling Inggris dan dolar Australia masing-masing sebesar 0,14 persen.

Analis Bina Artha Sekuritas Muhammad Nafan Aji Gusta mengatakan rupiah menghirup udara segar pada pagi hari ini karena data-data makroekonomi global yang dirilis ketika aktivitas pasar modal dan pasar uang dalam negeri berhenti karena tanggal merah Rabu (3/4) kemarin.


Pertama, indeks jasa China yang disusun oleh Caixin menunjukkan penguatan, dari 51,1 pada Februari menjadi 54,4 pada Maret. Kedua, indeks European Services Purchasing Manager Index (PMI) menguat dari 52,7 di Februari ke 53,3 pada Maret.

Dengan data ini, pelaku pasar masih percaya bahwa kondisi ekonomi global masih mumpuni, sehingga investasi ke aset berisiko di negara berkembang kembali dilirik. Khusus untuk Indonesia, pelaku pasar menilai fundamental ekonominya masih kuat setelah Badan Pusat Statistik (BPS) merilis inflasi tahunan sebesar 2,48 persen pada Maret atau turun dari Februari 2,57 persen.

Tak ketinggalan, penguatan rupiah juga disebabkan oleh optimisme akan negosiasi perang dagang antara AS dan China. Perkembangan terbaru, China sepakat untuk membeli banyak komoditas AS mulai 2025 dan menyepakati 100 persen kepemilikan AS di perusahaan AS yang beroperasi di China.

"Jadi dengan kondisi yang mixed (bercampur), rasanya rupiah akan kembali menguat pada hari ini," jelas Nafan kepada CNNIndonesia.com, Kamis (4/4).


Sementara itu, Analis Asia Tradepoint Future Deddy Yusuf Siregar menjelaskan masih ada potensi penguatan rupiah pada hari ini. Meski demikian, penguatannya mungkin terbatas karena pelaku pasar cenderung bersikap menunggu (wait and see).

Indeks manufaktur AS kemarin sempat membaik, namun investor masih belum sepenuhnya percaya dengan perbaikan ekonomi AS. Untuk itu, pelaku pasar menunggu rilis data ketenagakerjaan AS (Non-Farm Payroll/NFP) pada Jumat (5/4).

Jika memang hasilnya bagus, ada kemungkinan investor kian percaya diri berinvestasi kembali di AS. Untuk itu, Deddy meramal rupiah akan bergerak di kisaran Rp14.180 hingga Rp14.250 per dolar AS.

"Pekan ini belum terlalu banyak pergerakan karena pelaku pasar masih melihat nada dovish The Fed dalam menahan suku bunga. Kemudian penguatan juga terbatas, karena pelaku pasar di Asia menanti negosiasi dagang, mencermati brexit, dan perekonomian global," kata Deddy.

[Gambas:Video CNN]


(glh/bir)