Sementara itu kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dolar Rate (JISDOR) Bank Indonesia menempatkan rupiah di posisi Rp14.182 per dolar AS atau menguat dari posisi Selasa yakni Rp14.237 per dolar AS. Adapun pada hari ini, rupiah diperdagangkan di rentang Rp14.180 hingga Rp14.192 per dolar AS.
Hari ini, hanya segelintir mata uang utama Asia yang menguat terhadap dolar AS. Hanya dolar Hong Kong yang menguat 0,01 persen dan yen Jepang menguat 0,07 persen. Sementara itu, mata uang lainnya melemah terhadap dolar AS.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dolar Australia melemah 0,09 persen, poundsterling Inggris menguat 0,01 persen, dan euro tidak menunjukkan penguatan terhadap dolar AS. Analis Binaartha Sekuritas Muhammad Nafan Aji Gusta mengatakan pergerakan rupiah hari ini dipengaruhi faktor internal dan eksternal.
Tak heran, aliran modal masuk sedang deras ke Indonesia. Hal ini, lanjut dia, bisa terlihat dari pergerakan imbal hasil Surat Berharga Negara (SBN). Pada hari ini, imbal hasil SBN bertenor 10 tahun turun 0,9 basis poin.
Penurunan imbal hasil merupakan indikasi bahwa harga obligasi sedang meningkat. Harga obligasi yang meningkat juga merupakan tanda bahwa permintaan terhadap SBN sedang tinggi. Karena yield yang turun adalah SBN bertenor panjang, artinya pelaku pasar optimistis dengan ekonomi Indonesia.
[Gambas:Video CNN]
"Ada stabilitas fundamental sehingga memberikan efek positif karena demand rupiah juga tinggi. Ini kenapa rupiah cenderung menguat lebih tinggi dibanding mata uang Asia lainnya," jelas Nafan kepada CNNIndonesia.com, Kamis (4/4).
Sementara itu, rupiah juga mendapat angin segar dari sisi eksternal utamanya dari rilis indeks jasa China dan Eropa. Rabu (3/4) kemarin, indeks jasa China yang disusun Caixin menunjukkan penguatan dari 51,1 pada Februari menjadi 54,4 pada Maret.
Selain itu, indeks European Services Purchasing Manager Index (PMI) juga menguat dari 52,7 di Februari ke 53,3 pada Maret. Ini menimbulkan optimisme bagi pelaku pasar untuk kembali berinvestasi dengan denominasi selain dolar AS.
Artinya, di sisi lain, permintaan dolar AS juga ikut menurun. "Ini efek negatif bagi dolar AS meski sebenarnya ini bukan faktor yang ibaratnya high market impact. Tapi dalam hal ini, rupiah merasa diuntungkan," imbuh dia.