Trump Sebut Perang Dagang Bisa Berakhir dalam 4 Minggu

CNN Indonesia | Jumat, 05/04/2019 15:23 WIB
Trump Sebut Perang Dagang Bisa Berakhir dalam 4 Minggu Presiden AS Donald Trump mengklaim bisa mencapai kesepakatan dagang dengan China dalam empat minggu ke depan. Artinya, 'perang' keduanya akan berakhir. (REUTERS/Thomas Peter).
Jakarta, CNN Indonesia -- Presiden AS Donald Trump mengklaim bisa mencapai kesepakatan dagang dengan China dalam empat minggu ke depan. Berarti, perang dagang antar kedua negara akan segera berakhir.

Seperti diketahui, AS dan China mulai menabuhkan genderang perang dagang pada tahun lalu dengan mematok tarif 'selangit' untuk perdagangan barang ke masing-masing negara.

Namun, seperti dilansir Reuters, Jumat (5/4), harapan untuk mengakhiri perang dagang semakin meningkat setelah kedua negara rajin melakukan pertemuan mencari kata sepakat.

Memang, hingga saat ini, Trump mengatakan masih ada beberapa poin yang sulit untuk disepakati bersama. "Namun, kami semakin dekat untuk membuat kesepakatan. Saya kira, dalam empat minggu ke depan atau kurang, sesuatu yang sangat monumental dapat diumumkan," ujarnya.


Ekonom dan politikus China Liu He optimistis Trump dan Presiden China Xi Jinping akan mencapai kemajuan dalam hubungan dagang kedua negara. Hal itu tampak dari intens-nya kedua pihak membahas isu-isu substantif untuk mencapai kesepakatan.

Xi menuturkan harapannya kepada tim perdagangan kedua negara agar dapat terus bekerja dalam semangat saling menghormati, kesetaraan, dan saling menguntungkan untuk menyelesaikan masalah masing-masing. "Perjanjian dagang sesegera mungkin," imbuh dia.

Ketika ditanya mengenai manfaat kesepakatan perdagangan bagi China, Trump berjanji bahwa China dapat terus berdagang ke AS. "Ini akan menjadi besar bagi China karena China akan terus berdagang ke AS," katanya.

Biro Statistik AS menyebut perdagangan barang antara AS dengan China, dua ekonomi terbesar di dunia, mencapai US$660 miliar pada tahun lalu. Terdiri dari US$540 miliar impor dari China dan US$120 miliar ekspor ke China.

[Gambas:Video CNN]


(Reuters/bir)