Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi mengatakan, pemerintah bersama PT Hutama Karya sebagai kontraktor akan melakukan penandatanganan kontrak kerja pengerjaan tol pada Selasa (9/4). Tol ini merupakan bagian dari Jalan Tol Trans Sumatera (JTTS) tersebut.
"Perencanaan sudah mulai jalan. Tanggal 9 [April] kita tanda tangan, signing di Muara Enim, mulai pembangunan sebulan kemudian. Insya Allah dalam 2 tahun selesai. Itu mulai dari Bengkulu, [Lubuk] Linggau, Lahat, Muara Enim, terus ke OKI [Ogan Komering Ilir]," ujar Budi di Lahat, Sumsel, Sabtu (6/4).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Ini pun akan merangsang bisnis batubara yang ada di Lahat. Lahat adalah lumbung energinya Sumsel dan Indonesia," ujar dia.
"Dana yang dibutuhkan, secara kasar yakni Rp100 miliar per kilometer sama dengan pengerjaan tol Palembang-Indralaya kemarin. Skema pembiayaannya, sepanjang pemerintah masih mampu 70 persen penyertaan modal. Sisanya dari pinjaman lembaga keuangan nonbank dan obligasi," ungkap Hasan.
Hasan berujar, pembangunan tol ini merupakan bagian dari proyek nasional JTTS yang diprioritaskan pada 2019-2023. Pembangunan tol akan memangkas waktu tempuh yang diperlukan untuk melintasi dua provinsi ini.
"Saat ini panjang jalan nasional Indralaya-Muara Enim 143 km, Muara Enim-Lubuk Linggau 193 kilometer, dan Lubuk Linggau-Bengkulu 141 km. Total 477 km lebih panjang jalan nasional Palembang-Bengkulu. Dengan adanya tol, waktu tempuh untuk 147 km akan terpangkas," kata dia. (idz/osc)