BCA Masih Tunggu Restu Pemegang Saham Akuisisi Bank Kecil

CNN Indonesia | Jumat, 12/04/2019 04:20 WIB
BCA Masih Tunggu Restu Pemegang Saham Akuisisi Bank Kecil BCA mengaku masih perlu menunggu restu para pemegang saham untuk bisa memuluskan rencana pengambilalihan atau akuisisi bank kecil. (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono)
Jakarta, CNN Indonesia -- PT Bank Central Asia Tbk (BCA) mengaku masih perlu menunggu restu para pemegang saham untuk bisa memuluskan rencana pengambilalihan atau akuisisi bank kecil. Rencananya, restu dari pemegang saham baru bisa dikantongi ketika perusahaan menggelar Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) dalam beberapa waktu ke depan.

Direktur Utama BCA Jahja Setiaatmadja mengatakan pihaknya dan bank kecil yang bakal diakuisisi sejatinya sudah saling sepakat mengenai nilai pembelian. Bahkan, kedua pihak tengah melangsungkan tahap penilaian kinerja atau uji tuntas (due diligence) terhadap bank kecil tersebut.

"Due diligence masih diproses. Begitu dapat persetujuan dari RUPSLB, kami sampaikan ke OJK (Otoritas Jasa Keuangan) secara resmi. Saat ini baru (menyampaikan ke OJK) secara informal," ucap Jahja di Ballroom Hotel Kempinski, Kamis (11/4).



Jahja masih enggan menyebut nama bank yang akan diakuisisi dan berapa nominal mahar yang bakal dialirkan BCA untuk mendapatkan bank kecil itu. Namun, perusahaan sebelumnya menyampaikan telah menyiapkan dana sekitar Rp4 triliun untuk mengembangkan usaha, termasuk akuisisi bank.

Dana yang disiapkan berasal dari kantong kas internal perusahaan. Targetnya, akuisisi bisa rampung pada paruh pertama tahun ini.


Adapun pada tahun ini, menurut dia, BCA menyiapkan belanja modal mencapai Rp5,2 triliun. Jumlah tersebut meningkat cukup pesat bila dibandingkan dengan tahun lalu yang hanya berkisar Rp3,5 triliun. Belanja modal itu, katanya, sebagian besar disiapkan untuk mengembangkan bisnis digital bank, misalnya memperbaharui mesin perekam data digital (Electronic Data Capture/EDC).

Pembaharuan mesin EDC dilakukan lantaran Bank Indonesia (BI) bakal menerbitkan standar transaksi pembayaran berbasis kode QR (QR Code) agar masing-masing perusahaan penyelenggara sistem pembayaran bisa menggunakan kode yang sama untuk seluruh transaksi QR Code.

"Ini untuk melengkapi sistem QR Code, karena ada perubahan di EDC. Selain itu, juga untuk penggantian ATM (Anjungan Tunai Mandiri), itu yang lama harus diganti yang baru," jelasnya. (ulf/agi)