Neraca Dagang China Bawa Rupiah Menguat Rp14.140 per Dolar AS

CNN Indonesia | Jumat, 12/04/2019 16:45 WIB
Neraca Dagang China Bawa Rupiah Menguat Rp14.140 per Dolar AS Ilustrasi dolar AS. (CNN Indonesia/Hesti Rika)
Jakarta, CNN Indonesia -- Nilai tukar rupiah berada di posisi Rp14.120 per dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan di pasar spot Jumat (12/4) sore. Posisi ini menguat 0,14 persen terhadap dolar AS dibandingkan Kamis (11/4) di angka Rp14.140 per dolar AS.

Sementara itu, kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) menempatkan rupiah di posisi Rp14.153 per dolar AS atau menguat dari posisi kemarin Rp14.156 per dolar AS. Adapun pada hari ini, rupiah bergerak di kisaran Rp14.120 hingga Rp14.150 per dolar AS.

Sore hari ini, pergerakan mata uang Asia terbilang bervariasi. Terdapat mata uang yang melemah seperti rupee India sebesar 0,34 persen, yen Jepang sebesar 0,24 persen, ringgit Malaysia sebesar 0,09 persen, won Korea Selatan sebesar 0,03 persen, dan dolar Hong Kong sebesar 0,01 persen.


ebagian lagi menguat, seperti dolar Singapura sebesar 0,13 persen, yuan China sebesar 0,15 persen, baht Thailand sebesar 0,29 persen, dan peso Filipina sebesar 0,39 persen. Demikian pula dengan mata uang negara maju yang menguat, seperti poundsterling Inggris sebesar 0,13 persen, euro sebesar 0,45 persen, dan dolar Australia sebesar 0,47 persen.

Analis Asia Tradepoint Future Deddy Yusuf Siregar mengatakan seharusnya rupiah pada hari ini terpapar sentimen negatif karena penguatan indikator makroekonomi AS. Pada Kamis (11/4) kemarin, inflasi AS menunjukkan kenaikan dari 1,5 persen di Februari menjadi 1,86 persen secara tahunan di bulan Maret.


Kemudian, data ketenagakerjaan AS juga menunjukkan perbaikan seiring pengurangan pendaftaran fasilitas pengangguran.

Namun, Indonesia mendapat angin segar dari rilis neraca perdagangan China yang mencatat surplus 221 miliar yuan, di mana hal ini lebih tinggi dari perkiraan sebelumnya yakni 2 miliar yuan. Ini tentu saja menimbulkan dampak positif bagi negara berkembang, karena pertumbuhan ekonomi global menunjukkan tren perbaikan.

"Kemudian meski indikator ekonomi AS membaik, pelaku pasar masih berpegang pada hasil notulensi FOMC Rabu kemarin yang masih memberikan sentimen dovish," ujar Deddy kepada CNNIndonesia.com, Jumat (12/4). (glh/agi)