Nasib Ekonomi Jika Jokowi-Ma'ruf Amin Terpilih Pilpres

CNN Indonesia | Senin, 15/04/2019 09:20 WIB
Nasib Ekonomi Jika Jokowi-Ma'ruf Amin Terpilih Pilpres Pelaku usaha mengaku membutuhkan pemimpin yang mampu menciptakan iklim usaha yang nyaman melalui kebijakan yang berkesinambungan. (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono).
Jakarta, CNN Indonesia -- Proyeksi Capres Petahana Joko Widodo (Jokowi) terhadap ekonomi RI menjadi yang terkuat keempat di dunia pada 2045 boleh dibilang tidak berlebihan. Salah satunya, karena bonus demografi, di mana sebanyak 70 persen penduduknya berada di usia produktif.

Bonus ini mulai dirasakan sejak 2010 lalu dan puncaknya diprediksi terjadi pada 2025 - 2030. Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional Bambang Brodjonegoro menyebut bonus demografi ini dapat mendorong pertumbuhan ekonomi, asalkan dikelola dengan baik.

Lalu, bagaimana pengelolaan yang baik?

Pelaku usaha yang tergabung dalam Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) mengatakan membuat suasana nyaman dalam dunia usaha melalui kebijakan yang berkesinambungan adalah salah satu contoh nyata.


Tak ragu-ragu, Apindo bahkan mengisyaratkan suasana nyaman bisa tercipta jika Capres Petahana Jokowi kembali memimpin lima tahun ke depan. Ketua Umum Apindo Hariyadi Sukamdani mengambil kesimpulan tersebut setelah menyimak kisah-kisah para pelaku usaha.

Menurut dia, sebagian besar anggota Apindo dengan skala usaha besar ingin Jokowi maju lagi sebagai presiden periode 2019-2024. Sementara, apabila Prabowo Subianto - Sandiaga Uno yang terpilih dalam pilpres, maka pelaku usaha harus menyesuaikan diri kembali dengan kebijakan baru.

Padahal, hal itu tidak mudah. Tengok lah, ketika Jokowi pertama kali memimpin. Bahkan, 4,5 tahun terakhir ini, pelaku usaha mengklaim masih beradaptasi dengan kebijakan pro investasi Jokowi.

"Kalau calon 01 (Jokowi), kami sudah tahu apa saja yang sudah dikerjakan, jadi sudah jelas. Kalau calon 02 (Prabowo) yang akan jadi presiden, tentu kami butuh penyesuaian lagi. Jadi kalau kami simak dari pelaku usaha, mayoritas lebih nyaman kalau 01 menjadi presiden," ujarnya, kemarin.



Ekonom Bank Mandiri Anton Gunawan menuturkan pelaku pasar tak menyukai perubahan secara tiba-tiba. Karenanya, ia menilai pasar saham dan obligasi masih akan bergerak stabil jika pemenangnya capres petahana. "Karena kebijakan lama akan diteruskan, sehingga kondisi yang saat ini berjalan sesuai dengan fundamentalnya," jelasnya.

Namun, jika Prabowo yang terpilih, maka pasar berpotensi bergejolak. Apalagi, kalau seluruh janji kampanyenya direalisasikan. Kondisi ini, ia mengingatkan persis yang terjadi di AS saat Presiden Donald Trump terpilih. Sontak, pasar saham dan obligasi bereaksi.

Sekadar informasi, dalam kampanyenya, Prabowo berjanji membatasi investasi asing di beberapa sektor, mengurangi impor di sektor pangan dan energi, mengurangi utang RI, termasuk mengkaji ulang proyek-proyek infrastruktur di bawah kepemimpinan Jokowi.

Menurut Panel Ahli Katadata Insight Center (KIC) Wahyu Prasetyawan, investor senang dengan pemimpin negara yang mudah diprediksi. Dengan demikian, investor bisa menakar arah kebijakan yang akan diterapkan. "Kalau tingkahnya tidak bisa diprediksi, maka akan terkait juga dengan investasi yang mereka sudah tanam," katanya.


Karenanya, ia melanjutkan kemampuan pemimpin dalam mengontrol emosinya juga dinilai penting, di samping visi dan misi. "Kalau emosinya tidak stabil kan bahaya," imbuh dia tanpa merinci pasangan calon yang dimaksud.

PR Masih Menumpuk

Kendati iklim usaha menginginkan Jokowi - Ma'ruf Amin, bukan berarti pasangan nomor urut 01 tersebut bisa melenggang tanpa celah. Ekonom UI Faisal Basri bilang pekerjaan rumah (PR) Jokowi jika terpilih kembali ialah memperkokoh sektor kemaritiman nasional.

"Kodrat kita (Indonesia) adalah negara maritim, maka laut prioritas untuk bisa mengejar ketertinggalan. Tol laut hanya sebatas kapal, itu sudah bagus, tapi yang dibutuhkan ini sistem kelautan, kemaritiman, termasuk di dalamnya meningkatkan sektor perikanan terhadap PDB (Produk Domestik Bruto)," terang dia.


Menurutnya, sektor kemaritiman masih meninggalkan sejumlah PR. Lihatlah, sumbangan ekonomi sektor kemaritiman terhadap ekonomi RI cuma dua persen. Padahal, luasan laut RI mencapai dua per tiga wilayah negara.

PR lain, sekitar 85 persen hasil ekspor dan impor di Indonesia diangkut menggunakan kapal asing. Tak heran, produk asal Indonesia menjadi lebih mahal ketimbang negara lain. Sebab, ada biaya sewa kapal yang tak murah.

"Sekarang kok kita (Indonesia) habiskan uang untuk transportasi? Makanya laut harus lebih komprehensif pengelolaannya," imbuhnya.

Anton Gunawan menambahkan hal lain yang perlu dibenahi capres petahana jika terpilih, yaitu logistik di dalam negeri. "Sehingga cost of logistic jadi turun. Selain itu, human capital juga perlu diperbaiki, karena kalau tidak produktivitas tidak meningkat cukup baik."

[Gambas:Video CNN] (aud)