ANALISIS

Sikap Rasional Pebisnis di Tengah Adu Klaim Menang Capres

CNN Indonesia | Selasa, 23/04/2019 16:01 WIB
Sikap Rasional Pebisnis di Tengah Adu Klaim Menang Capres Calon presiden nomor urut 01 Joko Widodo dan calon presiden nomor urut 02 Prabowo Subianto. (ANTARA FOTO/Akbar Nugroho Gumay).
Jakarta, CNN Indonesia -- Adu klaim kemenangan para calon presiden dalam momentum pemilihan umum (Pemilu) 2019 kali ini menyisakan situasi yang tak kondusif di berbagai sektor ekonomi.

Kubu calon presiden nomor urut 01 Joko Widodo-Ma'ruf Amin mengklaim mereka berhasil unggul perhitungan cepat (quick count) sementara dari sejumlah lembaga survei yang terdaftar resmi di Komisi Pemilihan Umum (KPU).

Di sisi lain, kubu calon presiden nomor urut 02 Prabowo Subianto-Sandiaga Uno mengklaim sudah berhasil mengamankan 62 persen suara berdasarkan perhitungan riil (real count) dari pihak internal.


Kalangan pengusaha berharap iklim dunia usaha tidak terpengaruh oleh adu klaim kemenangan yang tengah diperebutkan oleh kedua kubu calon presiden tersebut.


Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Hariyadi Sukamdani meyakini klaim kemenangan kedua kubu itu tidak berdampak pada dunia usaha karena sektor ini sangat rasional dalam menanggapi Pemilu 2019.

Menurut dia, kalangan pengusaha lebih percaya dengan klaim kemenangan kubu pertahana karena berdasarkan quick count dari lembaga survei resmi.

"Lembaga quick count itu kan sudah terakreditasi oleh KPU dan selama ini hasil quick count tidak jauh meleset dari hasil sebenarnya. Sementara secara nalar, real count itu tidak bisa keluar hanya dalam hitungan jam," ucap Hariyadi kepada CNNIndonesia.com, Senin (22/4).

Lebih lanjut ia mengatakan kepercayaan yang rasional terhadap hasil quick count membuat dunia usaha sudah mulai menyiapkan ancang-ancang untuk menyusun rencana bisnis ke depan. Terlebih, kemenangan kubu pertahana sesuai dengan harapan mayoritas pengusaha.


Sebab, kubu pertahana memberikan kepastian bagi kelanjutan beberapa kebijakan pada masa mendatang. "Mereka (dunia usaha) bahkan sudah mulai berencana ekspansi ini itu, tapi mungkin baru benar-benar dimulai kalau sudah ada pengumuman resmi dari KPU," katanya.

Senada, Wakil Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia Bidang Kebijakan Moneter, Fiskal, dan Publik Raden Pardede mengatakan adu klaim kemenangan tidak berdampak besar bagi dunia usaha karena pengusaha lebih fokus pada penyelenggaraan Pemilu itu sendiri.

Menurut Raden, penyelenggaraan Pemilu 2019 yang tergolong aman dan lancar membuat pengusaha lebih siap untuk mengembangkan ekspansi.

"Seperti halnya ketika Donald Trump (Presiden AS) menang, sekalipun tidak sesuai ekspektasi, tetap saja pasar me-respons positif lagi, karena ada banyak pertimbangan yang selanjutnya mempengaruhi, tidak hanya karena pemimpinnya," katanya.

Pengusaha Pilih Sikap Rasional di Tengah Adu Klaim Capres MenIlustrasi. (Istockphoto/Ridofranz).

Ia mengatakan pengusaha sejatinya akan lebih terpengaruh oleh kelanjutan kemenangan dari kubu tertentu setelah KPU resmi mengumumkan hasil. Pasalnya, setelah itu kubu yang menang akan membuat kabinet dan melakukan atur pasang jajaran menteri.

Tak ketinggalan, para jajaran menteri bakal mengeluarkan berbagai kebijakan yang bersinggungan dengan dunia usaha. Menurut dia, kebijakan setelah kabinet muncul bakal lebih berpengaruh karena merupakan kebijakan nyata, bukan lagi janji-janji politik seperti yang diucapkan ketika masa kampanye.

Kendati begitu, seperti halnya Hariyadi, Raden lebih condong percaya pada hasil quick count karena biasanya tidak jauh berseberangan dengan hasil perhitungan suara resmi dari KPU. Hal ini sudah terlihat sejak penyelenggaraan Pemilu tahun-tahun sebelumnya.

Lebih lanjut, bila kubu Jokowi-Ma'ruf benar-benar menang, ia menilai kemenangan ini setidaknya memberikan satu sisi positif bagi dunia usaha, yaitu kepastian lebih terjamin. Meski demikian, Jokowi kerap memberikan berbagai 'janji surga', misalnya pengurangan pajak bagi perusahaan.


Baginya, janji tersebut tidak menjadi hal yang akan paling 'ditagih' oleh pengusaha karena keringanan pajak sejatinya bisa muncul dengan sendirinya bila perekonomian membaik akibat kepastiana aturan dari pemerintah.

"Sekalipun dijanjikan penurunan pajak badan, tapi sebenarnya kami tidak muluk, yang penting ada kepastian. Lalu semua hambatan dikurangi dan yang rumit disederhanakan," terangnya.

Ekonom Universitas Indonesia (UI) Fithra Faisal melihat adu klaim kemenangan kedua kubu sejatinya tidak berdampak pada para pengusaha dan investor. Hal ini tercermin dari aliran modal asing (capital inflow) yang tetap deras mengalir ke Indonesia.

Berdasarkan data Bank Indonesia (BI), setidaknya aliran modal asing netto mencapai Rp90,9 triliun sejak awal tahun hingga pertengahan bulan ini. "Ini menandakan ada kepercayaan dar investor dan dunia usaha untuk jangka pendek, meski untuk yang jangka panjang masih harus diyakinkan," katanya.

[Gambas:Video CNN]

Bahkan, sekalipun ada kubu yang tidak menerima kekalahan dan diisukan akan menggerakkan masa alias people power, Fithra menilai hal tersebut tetap tidak akan menggoyangkan dunia usaha dan investasi.

"Itu hanya akan menjadi kekhawatiran sesaat," tuturnya. (uli/lav)