Ekonomi Korea Selatan Tekan Rupiah ke Rp14.186 per Dolar AS

CNN Indonesia | Kamis, 25/04/2019 16:49 WIB
Ekonomi Korea Selatan Tekan Rupiah ke Rp14.186 per Dolar AS Ilustrasi rupiah. (Foto: CNN Indonesia/Hesti Rika)
Jakarta, CNN Indonesia -- Nilai tukar rupiah berada di posisi Rp14.186 per dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan pasar spot Kamis (25/4) sore. Dengan demikian, rupiah melemah 0,58 persen dibandingkan penutupan Rabu (24/4) yang Rp14.105 per dolar AS.

Sementara itu, kurs referensi Bank Indonesia Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) menempatkan rupiah di posisi Rp14.154 per dolar AS atau melemah dibandingkan kemarin yakni Rp14.112 per dolar AS. Adapun di hari ini, rupiah diperdagangkan di kisaran Rp14.111 hingga Rp14.186 per dolar AS.

Sore hari ini, sebagian mata uang utama Asia masih menunjukkan pelemahan terhadap dolar AS. Won Korea Selatan melemah 0,86 persen, kemudian rupee India sebesar 0,36 persen, yuan China sebesar 0,27 persen, dan peso Filipina sebesar 0,14 persen.


Kemudian, dolar Singapura melemah 0,14 persen, ringgit Malaysia sebesar 0,13 persen, baht Thailand sebesar 0,08 persen, dan dolar Hong Kong sebesar 0,02 persen. Di Asia, hanya Jepang saja yang menguat terhadap dolar AS dengan nilai 0,29 persen.


Mata uang negara maju juga menunjukkan pelemahan terhadap dolar AS. Euro melemah 0,08 persen, poundsterling Inggris melemah 0,06 persen, dan dolar Australia melemah 0,03 persen.

Direktur Utama PT Garuda Berjangka Ibrahim mengatakan pelemahan rupiah kali ini masih didominasi oleh sentimen eksternal. Pelaku pasar nampaknya masih belum mau masuk ke pasar Asia karena dua faktor.

Pertama, pelaku pasar cenderung menunggu (wait and see) atas kelanjutan negosiasi perang dagang antara AS dan China yang sedianya akan digelar di Beijing pekan depan.

Kedua, pelaku pasar juga khawatir dengan pertumbuhan ekonomi Korea Selatan yang tercatat 1,8 persen secara tahunan (year-on-year). Pertumbuhan tersebut jauh di bawah ekspektasi analis yakni 2,5 persen. Ini menjadi laju terlemah dalam 10 tahun terakhir.

"Mereka (pelaku pasar) menunggu perkembangan terbaru sebelum kembali agresif," jelas Ibrahim, Kamis (25/4).

[Gambas:Video CNN]

Sementara itu, Analis Monex Investindo Dini Nurhadi Yahsyi mengatakan bahwa harga minyak yang melonjak tetap akan menjadi katalis negatif rupiah setidaknya hingga akhir pekan ini.

Sekadar informasi, harga minyak yang tengah melonjak lantaran AS meminta delapan negara yang sebelumnya mengimpor minyak dari Iran untuk menghentikan impornya. Jika tidak, delapan negara itu akan kena sanksi dari AS.

Kenaikan harga minyak tentu membawa mudarat bagi Indonesia. Pasalnya, Indonesia merupakan negara importir minyak. Posisi tersebut membuat kenaikan harga minyak akan memberatkan nilai impor, memperlebar neraca transaksi berjalan, dan ujungnya menggerus cadangan devisa Indonesia.

Artinya, permintaan Indonesia akan dolar ke depan akan semakin besar. Selain itu, ada potensi kekuatan BI untuk intervensi ke pasar valas juga minim karena devisa kian berkurang.

"Jika harga minyak menguat terus tampaknya bisa membebani rupiah hingga akhir pekan ini. Apalagi kalau harga minyak dunia terus membuat rekor tertinggi sepanjang tahun ini," jelas dia.

(glh/agt)