Tiket Pesawat Mahal, AP I 'Kehilangan' 3,5 Juta Penumpang

CNN Indonesia | Senin, 06/05/2019 19:25 WIB
PT Angkasa Pura I menyatakan jumlah penumpang pesawat lewat bandara kelolaan mereka turun 3,5 juta orang pada kuartal I 2019 karena tiket pesawat mahal. Ilustrasi penumpang pesawat. (CNN Indonesia/Safir Makki)
Yogyakarta, CNN Indonesia -- PT Angkasa Pura I (AP I) mencatat jumlah penumpang yang berangkat lewat bandara yang dikelolanya turun sampai dengan 3,5 juta orang pada kuartal I 2019. Harga tiket pesawat yang naik dan mahal beberapa waktu terakhir menjadi salah satu faktor penurunan jumlah penumpang.

Direktur Pemasaran dan Pelayanan AP 1 Devy Suradji mengatakan ada 35 ribu jadwal penerbangan yang terpaksa tidak dilanjutkan selama tiga bulan pertama tahun ini. Beberapa ada yang sengaja dibatalkan dan slot yang tidak digunakan.

"Faktor penurunan jumlah penerbangan macam-macam, satu mungkin karena tiket lalu ada pilihan transportasi kan bisa lewat tol juga sudah bagus," ungkap Devy di Yogyakarta, Senin (6/5).


Selain itu, bencana alam yang akhir-akhir ini terjadi juga membuat masyarakat membatalkan rencana liburannya. Walhasil, jumlah keluarga yang berlibur awal tahun ini tak sebanyak 2018 lalu.


"Jadi faktornya banyak dan kami masih meraba mengembalikan angka 2018 ke 2019 karena turunnya cukup signifikan," terang Devy.

Salah satu bandara yang terkena imbasnya, yakni Bandara Adisutjipto. Namun, ia tak merinci pasti persentase penurunannya.

"Turun domestiknya, kan ada tol juga," imbuh dia.

Sementara, Bandara Ngurah Rai di Denpasar menjadi bandara yang berhasil mempertahankan jumlah penumpangnya. Sebab, mayoritas masyarakat yang datang dan pergi merupakan penumpang internasional.

[Gambas:Video CNN]

"Penurunan ini mayoritas kan domestiknya yang kena. Ngurah Rai selamat dari internasionalnya," jelas Devy.

Diketahui, harga tiket pesawat masih saja mahal sejak akhir 2018 lalu. Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi mengaku sedang menggodok penurunan tarif batas atas harga tiket pesawat untuk kelas ekonomi.

Budi mengungkapkan sesuai ketentuan Undang-undang Nomor 1 Tahun 2009, Kementerian Perhubungan berwenang untuk menentukan tarif batas atas dengan mempertimbangkan kondisi masyarakat, khususnya dari segi daya beli.

Menurut Budi, menurunkan tarif batas atas kelas ekonomi akan efektif menekan harga. Pasalnya, jika maskapai layanan penuh (full-service) menurunkan harga tiket pesawat, biasanya maskapai lain akan mengikuti.
(aud/agt)