OJK Sebut Baru Enam Korporasi Terbitkan Sukuk Tahun Ini

CNN Indonesia | Jumat, 10/05/2019 12:14 WIB
OJK Sebut Baru Enam Korporasi Terbitkan Sukuk Tahun Ini Ilustrasi OJK. (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono).
Jakarta, CNN Indonesia -- Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mengatakan korporasi sudah menerbitkan 22 seri sukuk hingga akhir April 2019. Dari penerbitan tersebut, korporasi berhasil menghimpun pendanaan sebesar Rp3,3 triliun.

Direktur Pasar Modal Syariah OJK Fadilah Kartikasasi menjabarkan 22 seri obligasi ini diterbitkan oleh enam perusahaan. Keenam perusahaan tersebut, yakni PT Adira Dinamika Multifinance yang menerbitkan tiga seri sukuk dengan nilai Rp312 miliar, PT XL Axiata Tbk sebanyak lima seri dengan nilai Rp260 miliar, dan PT PLN (Persero) sebanyak enam seri dengan total nilai Rp863 miliar.

Kemudian, PT Indosat Tbk sebanyak lima seri dengan nilai Rp500 miliar, PT Sarana Multi Infrastruktur (Persero) sebanyak dua seri dengan nilai Rp1 triliun, dan PT Aneka Gas Industri sebanyak Rp110 miliar.



"Tetapi, kalau melihat emitennya, ini sebetulnya perusahannya itu-itu saja yang memang sudah beberapa kali menerbitkan sukuk. Ternyata ini tidak menyebar ke perusahaan lain seperti yang kami harapkan," jelas Fadilah, Kamis (9/5).

Ia menyebut penghimpunan dana di pasar sukuk saat ini cukup kompetitif. Sebab, surat utang yang ditawarkan oleh korporasi juga harus bersaing dengan Surat Berharga Negara (SBN) dan Surat Berharga Syariah Negara (SBSN).

Di awal tahun, pemerintah sangat gencar menerbitkan SBN dan SBSN dengan tingkat imbal hasil (yield) yang lebih tinggi seiring kenaikan suku bunga acuan BI 7 Days Reserve Repo Rate (7DRRR) sebanyak 175 basis poin di tahun lalu.


Terlebih, penerbitan SBN dan SBSN di awal tahun terbilang cukup agresif. Data Kementerian Keuangan mencatat, penarikan SBN netto selama kuartal I 2019 mencapai Rp185,83 triliun atau mencapai 47,78 persen dari target pembiayaan SBN tahun ini Rp388,96 triliun.

Sementara itu, di sisi lain, tingkat imbal hasil sukuk tentu lebih rendah dibanding obligasi konvensional. Sehingga, Fadilah mengakui bahwa korporasi harus pintar-pintar mencari imbal hasil yang menarik pada kuartal I lalu agar investor mau membeli sukuk yang diterbitkan.

"Sekarang ini memang cukup kompetitif, rate-nya cukup bersaing," terang dia.

[Gambas:Video CNN] (glh/agi)