Sinyal Damai Perang Dagang Bikin Rupiah Perkasa

CNN Indonesia | Jumat, 10/05/2019 16:46 WIB
Sinyal Damai Perang Dagang Bikin Rupiah Perkasa Ilustrasi dolar AS dan rupiah. (CNN Indonesia/Hesti Rika).
Jakarta, CNN Indonesia -- Nilai tukar rupiah berada di posisi Rp14.330 per dolar AS pada perdagangan pasar spot Jumat (10/5) sore. Rupiah menguat 0,21 persen dibandingkan penutupan Kamis (9/5), yakni Rp14.363 per dolar AS.

Sementara itu, kurs referensi Bank Indonesia Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) menempatkan rupiah di posisi Rp14.347 per dolar AS atau melemah dibanding kemarin Rp14.338 per dolar AS. Pada hari ini, rupiah berada dalam rentang Rp14.329 hingga Rp14.370 per dolar AS.

Hampir seluruh mata uang utama Asia menguat terhadap dolar AS. Peso Filipina menguat 0,12 persen, dolar Singapura menguat 0,13 persen, won Korea Selatan menguat 0,18 persen, yuan China menguat 0,21 persen, rupee India menguat 0,23 persen, dan baht Thailand menguat 0,66 persen.

Hanya yen Jepang dan ringgit Malaysia saja yang melemah terhadap dolar AS, dengan nilai pelemahan masing-masing 0,1 persen dan 0,12 persen. Kemudian, dolar Hong Kong tidak bergerak terhadap dolar AS.


Senada, mata uang negara maju juga menguat. Poundsterling Inggris menguat 0,01 persen, euro menguat 0,13 persen, dan dolar Australia menguat 0,15 persen.

Direktur Utama PT Garuda Berjangka Ibrahim mengatakan sentimen utama pergerakan rupiah kali ini masih perang dagang antara AS dan China. Kenaikan tarif bea masuk impor yang dikenakan AS naik dari 10 persen menjadi 25 persen pada Jumat (10/5) ini.

Tadinya, China akan membalas serangan dari AS ini. Namun, Trump mengaku telah mendapat surat indah dari Presiden China Xi Jinping yang mengindikasikan damai bagi kedua negara.

"Salah satu isi surat tersebut adalah 'mari bekerja bersama dan lihat apa yang bisa dicapai'. Setelah membawa surat itu, Trump yakin bahwa AS-China akan bisa mencapai kesepakatan dagang pekan ini," jelas Ibrahim, Jumat (10/5).

[Gambas:Video CNN]

Ia juga mengatakan penguatan rupiah juga disebabkan oleh indeks harga produsen AS yang hanya mencatat kenaikan 0,2 persen atau lebih rendah dari periode sebelumnya. Ini bikin pelaku pasar ragu-ragu dengan optimisme ekonomi AS.

Namun, pelaku pasar sejatinya masih khawatir dengan angka defisit transaksi berjalan pada kuartal I 2019 yang mencatat 2,6 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB), atau membengkak dibanding kuartal I tahun lalu yakni 2,01 persen dari PDB.

"Artinya, arus devisa dari ekspor-impor barang dan jasa masih belum memadai, bahkan semakin seret. Ini membuat kekuatan pondasi penopang rupiah kian berkurang, sehingga ke depan rupiah kemungkinan masih akan cenderung melemah," kata Ibrahim.


(glh/bir)