Loyo Lagi, Rupiah Kembali Tertekan ke Rp14.460 per Dolar AS

CNN Indonesia | Jumat, 17/05/2019 08:38 WIB
Loyo Lagi, Rupiah Kembali Tertekan ke Rp14.460 per Dolar AS Ilustrasi rupiah. (CNN Indonesia/Hesti Rika)
Jakarta, CNN Indonesia -- Nilai tukar rupiah berada di posisi Rp14.460 per dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan pasar spot Jumat (17/5) pagi. Dengan demikian, rupiah melemah 0,06 persen dibandingkan penutupan Kamis (16/5) yakni Rp14.452 per dolar AS.

Pagi hari ini, sebagian besar mata uang utama Asia memang melemah terhadap dolar AS. Ringgit Malaysia melemah 0,18 persen, yen Jepang melemah 0,14 persen, peso Filipina melemah 0,07 persen, dan dolar Singapura melemah 0,01 persen.

Meskipun demikian, terdapat pula mata uang Asia yang menguat terhadap dolar AS, seperti baht Thailand sebesar 0,01 persen dan won Korea Selatan sebesar 0,02 persen. Dolar Hong Kong sendiri tidak bergerak melawan dolar AS.

Direktur Utama PT Garuda Berjangka Ibrahim mengatakan rupiah saat ini memang belum terlepas dari 'sengatan' perang dagang antara AS dan China. 'Sengatan' yang menekan pergerakan rupiah selama dua pekan terakhir memang sudah mulai mereda setelah Presiden AS Donald Trump mengatakan bahwa negosiasi perang dagang dengan China sangat baik.


Tapi berbarengan dengan menurunnya ketegangan dagang tersebut,  rupiah mendapatkan sentimen negatif dari dalam negeri. Sentimen datang dari proyeksi defisit neraca transaksi berjalan Bank Indonesia (BI).

Sebagai informasi, BI memproyeksikan defisit transaksi berjalan bisa mencapai 3 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB) di tahun ini. Padahal, selama empat bulan ke belakang, BI yakin defisit transaksi berjalan bisa ditekan di level 2,5 persen.


"Artinya, bank sentral sudah memperkirakan bahwa defisit transaksi berjalan masih akan sulit diberantas. Bahkan berpotensi untuk semakin melebar, hal ini disebabkan meningkatnya ketidakpastian perekonomian global yang berdampak pada kinerja ekspor Indonesia," jelas Ibrahim, Jumat (17/5).

Selain sentimen tersebut, rupiah juga mendapatkan tekanan dari penguatan indeks dolar yang terjadi akibat perbaikan data ekonomi AS.  Sebagai gambaran data pembangunan rumah AS pada April tercatat sebanyak 1,23 juta unit atau tumbuh 5,7 persen secara tahunan.

[Gambas:Video CNN]

Pembangunan tersebut  lebih besar dari proyeksi sebelumnya yang hanya 1,20 juta unit di bulan Maret.

Selain itu data pengangguran AS juga membaik pada pekan lalu. Departemen Ketenagakerjaan AS mencatat pendaftaran manfaat pengangguran (unemployment benefit) turun 16 ribu menjadi 212 ribu. Dua faktor ini membuat dolar perkasa dibanding mata uang lainnya.

"Sehingga, rupiah akan diperdagangkan di level Rp14.420 hingga Rp14.470 per dolar AS," kata Ibrahim. (glh/agt)