Sentimen Perang Dagang Bikin Rupiah Melemah Lagi ke Rp14.434

CNN Indonesia | Selasa, 14/05/2019 16:34 WIB
Sentimen Perang Dagang Bikin Rupiah Melemah Lagi ke Rp14.434 Ilustrasi. (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono).
Jakarta, CNN Indonesia -- Nilai tukar rupiah berada di posisi Rp14.434 per dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan pasar spot Selasa (14/5) sore. Angka itu melemah 0,08 persen dibandingkan penutupan Senin (13/5) yakni Rp14.424 per dolar AS.

Sementara itu, kurs referensi Bank Indonesia Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) menempatkan rupiah di posisi Rp14.444 per dolar AS atau lebih rendah dibanding kemarin Rp14.362 per dolar AS. Adapun pada hari ini, rupiah berada dalam rentang Rp14.426 hingga Rp14.460 per dolar AS.

Pada hari ini, sebagian besar mata uang utama Asia menguat terhadap dolar AS. Baht Thailand menguat 0,42 persen, rupee India menguat 0,27 persen, dolar Singapura menguat 0,13 persen, peso Filipina menguat 0,05 persen, dan yuan China sebesar 0,02 persen.


Di sisi lain, terdapat mata uang yang melemah terhadap dolar AS yakni won Korea Selatan sebesar -0,16 persen, ringgit Malaysia sebesar -0,18 persen, dan yen Jepang sebesar -0,35 persen. Sementara itu, dolar Hong Kong tidak menunjukkan pergerakan terhadap dolar AS.


Di sisi lain, pergerakan mata uang negara maju terbilang bervariasi. Euro menguat 0,19 persen dan dolar Australia menguat 0,02 persen, sementara itu poundsterling Inggris melemah 0,09 persen.

Analis Monex Investindo Dini Nurhadi Yahsyi mengatakan pergerakan rupiah hari ini masih dipengaruhi oleh drama perang dagang antara AS dan China. Pada Jumat kemarin, AS resmi menaikkan tarif bea masuk impor China sebesar 10 hingga 25 persen. Sementara itu, China sudah membalas perbuatan AS Senin kemarin dengan menaikkan tarif impor AS di rentang 5 persen hingga 25 persen untuk impor senilai US$60 miliar.

Hal ini, lanjut dia, sontak bikin pelaku pasar kaget. Padahal sebelumnya, AS dan China seharusnya mencapai kesepakatan pada Jumat kemarin. Kondisi yang di luar ekspektasi ini, lanjut Dini, yang bikin pasar modal kalang kabut.


"Sementara itu hingga saat ini belum ada katalis positif yang bisa mengangkat rupiah," jelas Dini kepada CNNIndonesia.com, Selasa (14/5).

Sementara itu, Direktur Utama PT Garuda Berjangka Ibrahim mengatakan pelaku pasar mengantisipasi rilis Badan Pusat Statistik (BPS) terkait neraca perdagangan. Pelaku pasar mengantisipasi bahwa neraca perdagangan Indonesia akan mencatat defisit US$500 juta pada April lalu.

"Jika benar neraca dagang Indonesia membukukan defisit, maka akan mematahkan tren positif yang sudah dibukukan dalam dua bulan sebelumnya," jelas Ibrahim.

[Gambas:Video CNN] (glh/lav)