Ramai Cuitan #RushMoney, OJK Minta Jangan Dibesar-Besarkan

CNN Indonesia | Selasa, 28/05/2019 18:15 WIB
Ramai Cuitan #RushMoney, OJK Minta Jangan Dibesar-Besarkan Ilustrasi tagar 'rush money'. (Screenshoot via Twitter).
Jakarta, CNN Indonesia -- Otoritas Jasa Keuangan (OJK) meminta masyarakat tak menggubris dan membesar-besarkan ajakan untuk menarik dana dalam jumlah banyak atau disebut 'rush money' di media sosial usai aksi 22 Mei 2019.

Diketahui, tagar #RushMoney dan #RushMoneyIndonesia terus dicuitkan netizen di twitter setelah kerusuhan yang terjadi pekan lalu. Tepatnya, usai Komisi Pemilihan Umum (KPU) mengumumkan kemenangan pasangan calon presiden dan wakil presiden Joko Widodo-Ma'ruf Amin dalam pemilihan presiden (Pilpres) 2019.

"Itu tidak mungkin dong, bagaimana bisa membangun negara kalau menarik uang besar-besaran. Jangan terlalu dibesar-besarkan, tidak ada argumentasinya," ungkap Ketua Dewan Komisioner OJK Wimboh Santoso, Selasa (28/5).


Dana masyarakat seharusnya memang masuk ke dalam sistem industri keuangan, seperti rekening di perbankan. Dengan demikian, uang itu bisa disalurkan untuk perputaran kegiatan ekonomi dalam negeri.


"Uang itu kalau disimpan di kantong, ya tidak ada manfaatnya. Kalau disimpan di bank bukan berarti hilang, tapi ada di bank," jelas dia.

Bahkan, lanjut Wimboh, saat ini OJK mengajak lebih banyak masyarakat, khususnya pelajar untuk menabung di bank. Pasalnya, pertumbuhan Dana Pihak Ketiga masih lebih lambat dibanding kredit yang disalurkan.

Mengutip data OJK, DPK per April 2019 hanya naik satu digit, yakni 6,63 persen secara tahunan. Sementara itu, penyaluran kredit pada periode yang sama kenaikannya sampai 11,05 persen.


Wimboh menyebut pihaknya akan lebih banyak melakukan sosialisasi ke beberapa sekolah bersama dengan manajemen perbankan guna mengajak pelajar membuka rekening di bank.
"Budaya menabung itu sangat penting, jangan sampai budaya konsumtif," ucap Wimboh.

Sebagai informasi, ajakan menabung untuk pelajar ini sudah dilakukan sejak 2015 lalu melalui program Simpanan Pelajar atau SimPel/SimPel iB. Hingga akhir 2018, tercatat ada 17 juta rekening simpanan pelajar dengan nilai Rp6,6 triliun.

(aud/lav)