Organda Berharap Maskapai 'Tak Banting' Harga Tiket Pesawat

CNN Indonesia | Selasa, 28/05/2019 17:54 WIB
Organda Berharap Maskapai 'Tak Banting' Harga Tiket Pesawat Ilustrasi bis antar kota. (CNN Indonesia/Hesti Rika Pratiwi).
Jakarta, CNN Indonesia -- Organisasi Angkutan Darat (Organda) menilai harga tiket pesawat saat ini sudah ideal, sehingga tak berharap ada penurunan harga karena dianggap bisa membunuh aktivitas moda transportasi darat.

Sengaja Budi Syukur, Ketua Organisasi Angkutan Darat (Organda) Sumatera Barat mengaku tak ingin maskapai 'banting harga' lagi karena bisa menghambat pertumbuhan pendapatan moda transportasi darat.

"Batas atas tiket full servis Jakarta-Padang Rp1.476.000 sudah tepat. Angkutan darat bisa hidup kembali," kata Budi seperti dikutip dari Antara, Selasa (28/5).


Ketika harga tiket pesawat sangat murah hingga Rp500 ribu, dia menyebut moda angkutan darat untuk penumpang sangat tertekan. Pasalnya, pengelola angkutan darat harus menanggung biaya operasional yang cukup tinggi, sementara jumlah penumpang tidak seberapa.


Perbedaan harga tiket yang tidak signifikan membuat masyarakat cenderung memilih menggunakan pesawat karena waktu tempuh yang jauh lebih singkat dibanding menggunakan moda angkutan darat.

Namun sejak akhir Desember 2018 harga tiket pesawat melambung tinggi, hingga masyarakat menjadi berfikir dua kali menggunakan moda transportasi udara dan mulai kembali melirik transportasi darat.

Jumlah penumpang bus naik signifikan dua hingga tiga kali lipat sehingga pengusaha angkutan darat mulai berani kembali berinvestasi untuk memodifikasi armada demi kenyamanan penumpang.


"Untuk angkutan super eksekutif sudah sangat nyaman. Rata-rata sudah punya toilet. Tarif juga sangat kompetitif, Rp500 ribu sekali jalan," katanya.

Sebelumnya, Kementerian Perhubungan (Kemenhub) menerbitkan Keputusan Menteri Perhubungan No 106 Tahun 2019 tentang Tarif Batas Atas Penumpang Pelayanan Kelas Ekonomi Angkutan Udara Niaga Berjadwal Dalam Negeri yang meminta maskapai menurunkan tarif batas atas 12-16 persen.

[Gambas:Video CNN] (Antara/lav)