Banjir di AS Kerek Harga Minyak Dunia

CNN Indonesia | Rabu, 29/05/2019 07:00 WIB
Banjir di AS Kerek Harga Minyak Dunia Ilustrasi. (CNN Indonesia/Agus Triyono)
Jakarta, CNN Indonesia -- Harga minyak mentah Amerika Serikat (AS) menguat hampir 1 persen pada perdagangan Selasa (28/5), waktu setempat. Penguatan disebabkan oleh gangguan pasokan dari hub pengiriman minyak mentah AS di Cushing, Oklahoma akibat banjir di Midwest.

Dilansir dari Reuters, Rabu (29/5), harga minyak mentah berjangka AS West Texas Intermediate (WTI) menguat US$0,51 atau 0,9 persen menjadi US$59,14 per barel.

Sementara, harga minyak mentah berjangka Brent relatif stabil di level US$70,11 per barel.


"Banjir sepertinya berdampak pada hub distribusi di AS, memperlambat minyak yang keluar dari Cushing dan menciptakan penawaran pada WTI," ujar Ahli Strategi Pasar Senior RJO Future Philip Streible di Chicago.


Pada Selasa (28/5) kemarin, ramalan cuaca menyatakan area banjir di Arkasas dan Oklahoma AS masih akan menghadapi hujan deras yang akan membuat Sungai Arkansas makin membludak. Kondisi ini mengganggu aliran minyak mentah dari hub pengiriman minyak mentah utama AS di Cushing, Oklahoma.

Sementara itu, harga minyak masih terjepit di antara kekhawatiran terhadap perlambatan ekonomi global dengan ekspektasi berlanjutnya kebijakan pemangkasan pasokan yang dilakukan oleh Organisasi Negara Pengekspor Minyak (OPEC) dan sekutunya, termasuk Rusia.

OPEC dan sekutunya akan menggelar pertemuan pada 25-26 Juni mendatang untuk membahas kebijakan mengenai produksi. Namun, masih belum jelas apakah kelompok kartel minyak dunia ini akan memperpanjang kebijakan pemangkasan sebesar 1,2 juta barel per hari (bph) yang telah dijalankan sejak Januari 2019 ini.

"Arah Saudi sepertinya cenderung untuk memperpanjang pemangkasan produksi mengingat produksi AS meningkat," ujar Wakil Kepala Riset Pasar Tradition Energy Gene McGillian.


Pekan lalu, penurunan mingguan harga Brent dan WTI merupakan yang terbesar sejak Desember 2018. Harga Brent tercatat merosot 4,5 persen dan WTI turun 6,4 persen.

Penurunan harga minyak pekan lalu terjadi setelah pemerintah AS mengumumkan kenaikan persediaan minyak mentah Negeri Paman Sam menjadi 476,8 juta barel, tertinggi sejak Juli 2017.

Kendati demikian, pasokan global sejauh ini telah mengetat karena kebijakan pemangkasan produksi yang dilakukan oleh OPEC dan sekutunya. Selain itu, memanasnya tensi politik di Timur Tengah juga turut mendongkrak harga minyak. Pengenaan sanksi AS terhadap minyak mentah Iran dan Vemezuela juga turut menyokong harga.

"Ada premi geopolitik yang membantu menopang harga," ujar Analis Again Capital LLC John Kilduff.
[Gambas:Video CNN]
Investor tetap mencemaskan eskalasi perang dagang AS-China yang dapat menghantam perekonomian global dan menggerus konsumsi bahan bakar global.

"Perang dagang AS-China belum akan membaik dan benar-benar mulai membebani pertumbuhan," ujar Pimpinan Blue Line Futures Bill Baruch di Chicago.

Tak ayal, Baruch menilai permintaan minyak mentah berpotensi turun. (sfr/agi)