Rupiah Masih Perkasa di Level Rp14.238 per Dolar AS

CNN Indonesia | Selasa, 11/06/2019 17:03 WIB
Rupiah Masih Perkasa di Level Rp14.238 per Dolar AS Ilustrasi rupiah dan dolar Amerika Serikat. (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono).
Jakarta, CNN Indonesia -- Nilai tukar rupiah berada di posisi Rp14.238 per dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan pasar spot sore ini, Selasa (11/6). Angka itu menguat 12 poin atau 0,08 persen dari posisi Senin (10/6) di level Rp14.250 per dolar AS.

Sementara itu, kurs referensi Bank Indonesia (BI), Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) menempatkan rupiah di posisi Rp14.258 per dolar AS atau menguat tipis dari posisi kemarin Rp14.231 per dolar AS.

Rupiah menguat bersama mayoritas mata uang lain di kawasan Asia. Dolar Hong Kong menguat 0,1 persen, dolar Singapura 0,1 persen, baht Thailand 0,18 persen, peso Filipina 0,36 persen, dan won Korea Selatan 0,37 persen.


Hanya yen Jepang yang melemah 0,21 persen, sedangkan ringgit Malaysia stagnan. Sementara itu, mata uang utama yang melemah hanya franc Swiss melemah 0,17 persen dan dolar Australia minus 0,07 persen.


Sisanya, berada di zona hijau. Euro Eropa menguat 0,05 persen, dolar Kanada 0,057 persen, poundsterling Inggris 0,19 persen, dan rubel Rusia 0,29 persen.

Direktur Utama PT Garuda Berjangka Ibrahim mengatakan mata uang Garuda berhasil menguat karena topangan sentimen domestik. Misalnya, kenaikan peringkat utang Indonesia oleh lembaga pemeringkat internasional, S&P.

Kemudian, data inflasi Indonesia pada Mei 2019 sebesar 0,53 persen juga cukup stabil dan sesuai dengan ekspektasi pasar. Menurutnya, pasar melihat tingkat inflasi sebagai patokan pertumbuhan permintaan di dalam negeri.

"Artinya, dari sisi pasokan Indonesia semakin baik, dunia usaha semakin mampu untuk menyesuaikan irama permintaan konsumen," katanya kepada CNNIndonesia.com, Selasa (11/6).


Sementara dari eksternal, sentimen yang mempengaruhi pergerakan mata uang di dunia masih didominasi oleh perang dagang antara AS dan China. Sentimen ini kian berpengaruh lantaran Presiden AS Donald Trump menyatakan bakal segera memberlakukan kenaikan tarif bea masuk impor bagi produk asal China bila tidak ada kesepakatan.

Selain itu, pergerakan mata uang di pasar uang dunia juga terpengaruh oleh kebijakan moneter dari sejumlah bank sentral di dunia. Misalnya, bank sentral India dan bank sentral Australia baru saja memangkas tingkat suku bunga acuan mereka.

Hal tersebut membuat pasar berekspektasi bank sentral AS, The Federal Reserve juga akan mengikuti langkah tersebut. "Penurunan suku bunga oleh The Fed meningkat, meskipun investor khawatir untuk menjual secara agresif sebelum KTT G20 bulan ini," katanya.

Untuk hari esok, Ibrahim memperkirakan rupiah akan bergerak di rentang Rp14.205-Rp14.275 per dolar AS dengan kecenderungan menguat. Sebab, sentimen dalam negeri terlihat masih bisa menopang rupiah.

[Gambas:Video CNN] (uli/lav)